Bangkit dari Tidur Panjang, Wayang Topeng Menak Malang Harus Dilestarikan

Warisan budaya Wayang Topeng Menak yang sempat hilang selama 50 tahun kini kembali hidup melalui perayaan Burak Bawana Menak dan gerakan pelestarian budaya Malang.

Malanginspirasi.com – Wayang Topeng Menak, salah satu warisan budaya leluhur Kota Malang yang sempat “tertidur” selama 50 tahun, kini kembali bangkit.

Kebangkitan ini ditandai dengan acara perayaan bertajuk Burak Bawana Menak yang diinisiasi oleh Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) Nahdlatul Ulama (NU) Kota Malang.

Tokoh penting yang hadir dalam acara Burak Bawana Menak. (Hana)

Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita, S.S. Ketua LESBUMI NU KH. M. Jadul Maula. Sejarawan sekaligus tim penasihat ahli revitalisasi wayang topeng menak, M. Dwi Cahyono. serta Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum.

Dalam sambutannya, Amithya Ratnanggani mengungkapkan rasa syukurnya atas upaya LESBUMI yang telah menginisiasi riset dan pembentukan kelompok pelestari sejak 2019.

“Ini merupakan hal yang sangat perlu kita lestarikan karena di Kota Malang banyak sekali budaya-budaya yang boleh saya bilang terlupakan,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan minimnya anggaran untuk kebudayaan yang hanya ratusan juta per tahun, padahal kelompok yang perlu diberdayakan sangat banyak.

Lakon pertunjukan yang ditampilkan dalam perayaan ini bersumber dari Serat Menak Yosodipuro yang ditulis pada 1893 dan diterbitkan ulang oleh Direktorat Sejarah dan Seni Tradisional pada 1993.

Apresiasi dari Kementerian Kebudayaan

Kebangkitan ini mendapat apresiasi dari Dr. Restu Gunawan yang menyatakan bahwa inisiasi ini sejalan dengan program Kementerian Kebudayaan.

“Tentu saya mengapresiasi teman-teman dari LESBUMI yang sudah menginisiasi, membangkitkan kembali Topeng Menak,” katanya.

M. Jadul Maula yang datang jauh dari Yogyakarta juga menyampaikan pentingnya acara ini. “Ini satu peristiwa yang penting menurut saya. Karena kisah menak itu asalnya dari Persia, diadaptasi ke Nusantara, diterjemahkan dalam bahasa Melayu menjadi Hikayat Amir Hamzah,” jelasnya.

Sementara itu, M. Dwi Cahyono menyoroti upaya revitalisasi ini sebagai bentuk keprihatinan dan ekspresi sayang kalau orang jawa menyebutnya eman terhadap khazanah budaya Malang.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari gerakan “Topeng Malang Menolak Punah” yang mereka luncurkan.

“Ini adalah salah satu ekspresi kami untuk menolak punah Topeng Menak Malang, karena topeng ini riil hadir di Malang,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *