Malanginspirasi.com – Hotel Niagara Lawang bukan sekadar bangunan tua yang difungsikan sebagai penginapan.
Hotel ini pertama kali dibuka pada tahun 1890-an, hotel ini menjadi saksi bisu perkembangan Kota Malang dan salah satu ikon sejarah yang masih berdiri hingga kini.
Terletak di Jl. Dr. Sutomo No.63, Krajan, Turirejo, Kec. Lawang, Kabupaten Malang, hotel bintang satu ini memiliki lima lantai dan menyimpan banyak kisah masa lampau.
Perpaduan Arsitektur Unik

Awalnya, hotel ini merupakan vila pribadi milik keluarga Liem Sian Joe, seorang pengusaha berdarah Tionghoa.
Arsiteknya adalah Mr. Fritz Joseph Pinedo asal Brasil, yang merancang bangunan dengan perpaduan gaya Brasil, Belanda, Tiongkok, dan Victoria.
Bangunan ini memiliki tinggi yang mencapai 35 meter dan proses pembangunan yang memakan waktu sekitar 15 tahun dan sempat menjadi yang tertinggi di Asia pada masanya.
Hebatnya lagi, gedung ini sudah dilengkapi dengan lift buatan ASEA asal Swedia tahun 1900.
Sayangnya berita duka hadir di tahun 1919. Liem Sian Joe sebagai pemilik tempat ini meninggal dunia.
Dengan segala kemewahan yang dimilikinya, keluarga Liem hanya menempati vila tersebut hingga tahun 1920-an sebelum akhirnya pindah ke Belanda.
Setelah ditinggalkan oleh pemiliknya, vila keluarga ini jarang digunakan dan kurang terawat selama bertahun-tahun.
Hingga pada tahun 1960, salah satu ahli waris menjual bangunan tersebut kepada pengusaha asal Surabaya bernama Ong Kie Tjai.
Ukuran kamar di hotel ini tergolong luas, sekitar 5×6 meter, dengan connecting door di setiap kamar untuk memudahkan akses.
Di setiap lantai juga terdapat aula keluarga sebagai tempat berkumpul, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai vila keluarga.

Beroperasi di Tengah Modernisasi
Hotel ini sering dikaitkan dengan kisah mistis karena usia bangunannya yang sudah sangat tua.
Namun menariknya, rating Hotel Niagara di Google masih mencapai 4.4, dan banyak wisatawan yang tertarik mencoba pengalaman menginap di sana. Saat ini, hanya lantai satu hingga tiga yang masih beroperasi.
Sementara lantai empat dan lima yang dulu sempat digunakan, telah menjalani renovasi sejak awal 2000-an dan hingga kini belum difungsikan kembali.
Hotel Niagara pernah mengalami masa kejayaan pada era 1980-an. Saat itu, banyak wisatawan luar negeri yang datang melalui pelabuhan Surabaya dan memilih menginap di hotel ini.
Hingga beberapa tahun lalu, masih ada tamu mancanegara, khususnya dari Belanda, yang datang untuk bernostalgia.
Selain itu, wisatawan dari luar Jawa juga kerap menjadikan hotel ini sebagai tempat menginap saat berkunjung ke Lawang dan sekitarnya.
Baca Juga:
Sejarah Kota Malang dari Zaman Kerajaan, Penjajahan Hingga Menjadi Kota Modern Favorit
Petirtan Watugede, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Dipercaya Pemandian Ken Dedes
Dikutip dari Radar Malang, meski sudah berusia lebih dari satu abad, Hotel Niagara masih beroperasi dengan baik dan dirawat oleh 17 staf.
Kini pengelolaannya dilanjutkan oleh generasi penerus keluarga pemilik. Hotel ini juga memiliki ruang pertemuan berkapasitas 50–75 orang yang sering digunakan untuk rapat atau seminar.
Untuk menyesuaikan perkembangan zaman, sistem pemesanan kamar kini sudah bisa dilakukan secara daring melalui aplikasi pihak ketiga.
Selain itu, pengelola berencana menambah fasilitas lift agar tetap nyaman bagi pengunjung.
Meskipun belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya resmi, Hotel Niagara tetap dianggap memiliki nilai sejarah tinggi bagi Kabupaten Malang.
Hingga kini, hotel tersebut masih beroperasi dan tidak ada rencana untuk dijual karena telah menjadi bagian dari warisan keluarga dan sejarah kota.








