Malanginspirasi.com – Inkubasi bisnis “Jagoan Banyuwangi” yang digagas oleh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), Dias Satria, S.E.,M.App.Ec.,Ph.D., telah memberikan dampak signifikan bagi perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta penanggulangan pengangguran di Kabupaten Banyuwangi. Program ini tidak hanya membantu ribuan UMKM berkembang, tetapi juga menunjukkan kontribusi nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan Pemkab Banyuwangi, Lusi Herawati, SE, M.Sc., mengungkapkan bahwa program “Jagoan Banyuwangi” telah meningkatkan jumlah tenaga kerja di UMKM binaan.
Beberapa produk pertanian juga sudah dipasarkan ke Bali melalui Lotte Mart. Salah satu alumni “Jagoan Banyuwangi” bahkan sempat menjadi duta pertanian di Kementerian Pertanian karena keberhasilan inovasinya.
“Secara makro ekonomi, meskipun belum dihitung secara khusus kita bisa lihat bahwa Jagoan Banyuwangi berkontribusi dalam menurunkan kemiskinan di Banyuwangi. Dari awalnya di angka 8,07% (di tahun 2021) sekarang sudah turun jadi posisi 6,54% (di tahun 2024). Terus kemudian pendapatan per kapita kita juga mengalami peningkatan dari 49,99 juta/org./tahun (2021) mengalami peningkatan sebesar 62,08 juta/org./tahun (pada 2024),” ujar Lusi.

Sementara itu, Dias Satria mengatakan, “Jagoan Banyuwangi” agak berbeda dengan program pelatihan bisnis anak muda lainnya. Yakni dengan menerapkan kurikulum bisnis yang ada di luar negeri, seperti Harvard University, Stanford University, dengan pendekatan model partisipatif, Lego Serious Play, board game, dan permainan-permainan untuk mengajarkan bisnis.
Kolaborasi Lintas Sektor
Dias menjelaskan, program ini dirancang dengan pendekatan kolaboratif lintas sektor dengan membuka ruang sinergi strategis dengan berbagai lembaga negara, mulai dari Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Bank Indonesia (BI). Masing-masing institusi memainkan peran sesuai kewenangannya.
Kementerian Keuangan, misalnya, terlibat melalui fasilitas pembiayaan ultra mikro dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP), edukasi perpajakan bagi pelaku usaha, serta dukungan bea cukai untuk mengakses ekspor dan impor.
Diaz juga mengaplikasikan program tersebut di daerah lain seperti Blitar dengan nama Cah Preneur, Kediri dengan Pehneur Kediri, Lamongan dengan Meg Preneur, serta Semarang melalui Kita Tani Muda.
Diaz menekankan bahwa keberlanjutan program di daerah lain sangat bergantung pada komitmen kepala daerah setempat.
“Ketika kepemimpinan berganti, seringkali program berhenti. Padahal membangun ekosistem butuh waktu,” ujarnya.
Banyuwangi hingga kini tetap menjadi yang paling sustain karena dukungan yang konsisten dari berbagai pihak.
“Jagoan Banyuwangi” merupakan program pembinaan dan pengembangan usaha yang diterapkan bagi UMKM-UMKM. Program ini terdiri dari Jagoan Tani, Jagoan Digital dan Jagoan Bisnis merupakan program inkubasi pengembangan usaha anak muda di bidang pertanian, bisnis, dan digitalisasi (startup).
Jagoan Banyuwangi sendiri terdiri dari tiga program utama yaitu Jagoan Tani, Jagoan Digital, dan Jagoan Bisnis, yang fokus pada pengembangan usaha di bidang pertanian, bisnis, dan digitalisasi (startup). Pelaku UMKM dapat mengikuti program ini secara individu atau kelompok minimal dua orang dengan melakukan pendaftaran terlebih dahulu.
Selama masa inkubasi, peserta mendapatkan pendampingan melalui mentoring intensif yang mendorong kemampuan membuat bisnis surveillance, membangun jejaring bisnis, serta membuka peluang pasar yang lebih luas. Selain itu, pelaku UMKM juga menerima bantuan modal guna mendukung pengembangan usahanya.







