Malanginspirasi.com – Direktorat Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menekankan pentingnya peningkatan produktivitas peternak sapi perah rakyat. Salah satunya dengan penerapan manajemen modern dan berkelanjutan lewat Program US-Indonesia Dairy Partnership (USIDP).
Hal tersebut disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si. Bahwa pihaknya terus mendorong pelatihan ini sebagai bagian dari peningkatan kapasitas peternak sapi perah, khususnya dalam hal manajemen pemeliharaan.
Menurutnya, USIDP dirancang untuk menyesuaikan dengan kondisi peternakan di Indonesia, bukan semata meniru sistem luar negeri.
“Metode pelatihan digital ini memungkinkan para peternak. Khususnya generasi milenial, untuk memahami manajemen peternakan modern dengan cara yang lebih menarik dan mudah diakses,” ucapnya.
“Kita ingin peternak kita sadar bahwa untuk meningkatkan produksi, mereka harus menerapkan manajemen yang lebih baik. Digitalisasi pelatihan ini menjawab kebutuhan itu,” imbuhnya.
Selain menggandeng peternak sapi perah, program ini juga bekerjasama dengan Universitas Brawijaya.
Kerja sama ini juga berfokus pada optimalisasi penyerapan hasil susu segar dari peternak melalui Program Makan Bergizi (MBG) yang digagas Presiden RI.
“Susu adalah bahan pangan bergizi tinggi yang penting untuk tumbuh kembang anak. Dengan adanya captive market seperti MBG, hasil susu segar dari peternak kita akan terserap optimal,” terang Agung.
Ia menambahkan bahwa saat ini, skema kemitraan terus dikembangkan, baik dengan koperasi maupun perusahaan swasta. Hal ini agar peternak bisa menambah populasi sapi mereka melalui pola kerja sama, bukan kepemilikan mandiri.
“Untuk mendukung peningkatan produksi susu nasional, pemerintah juga menggandeng investor swasta dalam mendatangkan sapi perah dari luar negeri. Hingga Juli 2025, tercatat lebih dari 14.000 ekor sapi perah telah didatangkan. Sebagian besar dalam kondisi bunting, sebagai upaya regenerasi populasi nasional,” papar Agung.
Andalkan Investasi Swasta
Pemerintah menargetkan untuk bisa mendatangkan hingga 1 juta ekor sapi perah dalam lima tahun ke depan.
“Namun karena keterbatasan anggaran negara, kita mengandalkan investasi swasta untuk mencapainya,” katanya.
Selain melatih peternak secara langsung, USIDP juga menjalankan skema Training of Trainers (ToT), di mana para pelatih yang sudah dibekali akan menjadi pendamping berkelanjutan di komunitas peternak. Evaluasi perkembangan peserta pelatihan juga akan dilakukan secara digital, sehingga hasil pembelajaran bisa terukur.
Program ini sebelumnya telah dilaksanakan di IPB University dan kini berlanjut di Jawa Timur, serta direncanakan juga akan diterapkan di Jawa Tengah. Tujuannya adalah menjangkau lebih banyak peternak rakyat, khususnya di luar Pulau Jawa.
“Kami berharap USIDP di Jawa Timur dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan industri susu yang lebih kuat dan berkelanjutan di Indonesia, serta memperkuat kemitraan antara Indonesia dan AD di sektor agribisnis,” ucapnya.
Program USIDP ini sendiri digelar di Jawa Timur melalui kerjasama internasional antara USEDEC, New Mexico Department of Agriculture, Universitas New Mexico, Universitas Wisconsin, dan IPB University. Salah satu tujuannya ialah untuk meningkatkan kapasitas peternak sapi perah skala kecil melalui pelatihan berbasis digital.
Dalam kesempatan yang sama, Senior Vice President of Market Access and Regulatory Affairs USDEC, Jonathan Gardner mengaku antusias mendukung program ini di Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi susu di Indonesia.
“Melalui kemitraan ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan industri susu di Indonesia, serta mendukung upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat,” tandasnya.







