Pedagang Pasar Terpadu Dinoyo Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli dan Tingginya Biaya Operasional

Malanginspirasi.com – Aktivitas perdagangan di Pasar Terpadu Dinoyo pada Jumat (28/11/2025) pukul 10.00 WIB tampak lengang.

Sejumlah pedagang mengakui kondisi pasar semakin menantang seiring kenaikan harga komoditas, menurunnya jumlah pembeli, serta biaya pengelolaan gerai yang cukup tinggi.

Salah satu pedagang sayur, Tauhid, menjelaskan bahwa keramaian pasar hanya terjadi pada dini hari hingga pagi. Setelah pukul 10.00, aktivitas berangsur sepi.

“Kalau pagi-pagi sampai siang itu penuh. Tapi kalau jam segini sudah sepi,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian besar transaksi grosir dari pemasok dan pedagang keliling terjadi pada pukul 01.00–05.00.

Tantangan Pedagang

Ia menuturkan bahwa perubahan kebiasaan belanja turut memengaruhi ritme pasar. Banyak warga kini memilih belanja di toko daring dibandingkan di pasar secara langsung.

Di tengah persaingan tersebut, para pedagang mengaku tidak memiliki strategi khusus selain mempertahankan layanan dan mengikuti regulasi harga.

“Ya dijalani saja. Pembeli ada yang langganan, ada yang baru. Ramainya juga tidak menentu,” ungkap Misti, pedagang sembako.

Misti juga mengakui bahwa mereka tidak dapat melakukan berbagai bentuk promosi seperti diskon atau paket hemat.

Dikarenakan aturan pasar yang tidak memperbolehkan pedagang melakukan promo khusus.

Kondisi ini membuat para pedagang mengandalkan hubungan personal, pelayanan, serta kejujuran untuk mempertahankan pelanggan.

“Orang dagang itu harus telaten dan jujur. Kalau malas sedikit saja, ya susah,” tutur Tauhid.

Indra, pedagang sembako lainnya menyebutkan bahwa konsumen semakin selektif.

Selain mempertimbangkan harga, pembeli kini menanyakan asal produk untuk memperoleh kualitas yang bagus.

Pedagang Pasar Terpadu Dinoyo Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli dan Tingginya Biaya Operasional
Tauhid, pedagang sayur di Pasar Terpadu Dinoyo, saat berbicara dengan media Malang Inspirasi. (Ananda Putri Noviana)

Seperti halnya kacang tanah impor lebih banyak diminati pembeli dibandingkan yang berasal dari petani lokal.

Hal ini berdampak pada stok dan strategi pembelian pedagang yang harus menyesuaikan dengan permintaan.

Sementara itu, beberapa pedagang memilih membawa sebagian dagangan pulang untuk dijual kembali dari rumah, memanfaatkan jaringan pelanggan sekitar lingkungan tempat tinggal.

Tauhid juga menggambarkan situasi yang tak kalah menantang. Sepinya pembeli membuat perputaran modal melambat, sementara biaya operasional tetap harus ditanggung.

Kendala Posisi

Pada akhirnya, banyak para pedagang yang memilih untuk menutup gerai mereka. Selain kendala operasional, kenyamanan pasar juga menjadi sorotan. Keluhan muncul mengenai posisi los pedagang yang dinilai kurang strategis.

Komoditas daging dan sayur yang ditempatkan di bagian belakang dan lantai atas menyulitkan pembeli, terutama lansia.

“Orang luar daerah lewat sini tidak tahu kalau ada pasar. Tertutup bangunan depan,” ungkap Tauhid.

Selain itu, penerapan standar timbangan serta pengawasan harga dinilai penting agar pedagang kecil dapat bersaing secara adil dan tidak dirugikan oleh praktik jual beli yang curang.

Hingga kini, pengawasan dinilai sudah berjalan, namun pedagang berharap koordinasi antara manajemen pasar dan dinas dapat ditingkatkan.

“Ada cek timbangan beberapa bulan sekali. Kalau ada yang kurang tepat langsung dibetulkan. Soal pengawasan harga dari pemerintah, ya kami mengikuti saja,” kata Misti.

Mereka berharap pasar tidak hanya bersih dan tertata, tetapi juga mudah ditemukan dan menarik bagi pengunjung baru.

“Harapannya pasar ini bisa ramai lagi seperti dulu,” ujar Tauhid.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *