Malanginspirasi.com – Menjelang Ramadan 2026 (1447 H), yang diperkirakan sekitar jatuh pada 18–19 Februari 2026, harga bahan pangan di Indonesia mulai menunjukkan gejala kenaikan pada beberapa komoditas strategis. Meski pemerintah menegaskan stok nasional aman dan surplus pada mayoritas item, lonjakan permintaan terjadi menjelang puasa. Sehingga menyebabkan fluktuasi harga, terutama pada cabai, bawang, daging ayam, dan telur.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Perdagangan, dan pemerintah daerah aktif melakukan pengawasan, operasi pasar, gerakan pangan murah (GPM), serta sidak rutin untuk menekan kenaikan berlebih dan mencegah penimbunan.
Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, harga cabai rawit menjadi yang paling “pedas” dengan lonjakan signifikan. Beberapa pedagang mengeluhkan kenaikan harga yang mencapai Rp80.000–85.000 per kg, naik hampir dua kali lipat dari Rp 40.000 per kg dua pekan sebelumnya.
Faktor utama adalah permintaan meningkat untuk kebutuhan masakan berbuka dan sahur, ditambah pengaruh cuaca yang memengaruhi pasokan.
Baca Juga:
Stabilisasi Harga Bahan Pokok, Pemkot Malang Rencanakan 20 Kali Gerakan Pangan Murah Selama Ramadan
Secara nasional (berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia dan Bapanas per 12–15 Februari 2026):
- Cabai rawit merah: Rp72.700–84.250 per kg
- Cabai merah keriting: Rp58.000–72.000 per kg
- Bawang merah: Rp43.600–44.000 per kg
- Bawang putih: Rp39.000–40.800 per kg
- Daging ayam ras: Rp 41.250–42.700 per
- Telur ayam ras: Rp31.000–33.000 per kg
- Daging sapi: Rp35.000–143.400 per kg
- Beras Premium: Rp15.900–17.150 per kg,
- Minyak goreng: Curah Rp18.000–20.000
Harga diperkirakan masih akan bergerak naik hingga puncak awal Ramadan, terutama cabai dan daging ayam. Begitu pula dengan bawang merah yang diperkirakan masih akan bertahan di atas Rp40.000 per kg.
Bahkan jika cuaca buruk atau distribusi terganggu, cabai rawit berpotensi tembus Rp100.000 per kg di beberapa daerah.







