Malanginspirasi.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,74 persen pada Februari 2026. Angka ini berbalik arah dari deflasi 0,10 persen yang tercatat pada Januari 2026, dengan kenaikan harga bahan pangan menjadi penyumbang utama.
Menurut rilis BPS, komoditas pangan seperti cabai rawit, beras, daging ayam ras, dan telur ayam menjadi pendorong terbesar inflasi. Kenaikan ini terjadi seiring persiapan Ramadan 1447 H yang dimulai 19 Februari 2026. Permintaan masyarakat melonjak sementara pasokan sempat terganggu faktor cuaca dan distribusi.
Secara year-to-date (Januari–Februari 2026), inflasi Kota Malang mencapai 0,64 persen dibandingkan akhir Desember 2025. Sementara inflasi year-on-year (Februari 2026 terhadap Februari 2025) tercatat 4,81 persen, sedikit di bawah rata-rata provinsi Jawa Timur yang mencapai 4,88 persen.
Meski inflasi bulanan naik, daya beli masyarakat Kota Malang masih terjaga. Survei Konsumen Bank Indonesia Perwakilan Malang Februari 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 147,3. Ini masih dalam zona optimis (>100), meski melambat dari 152,2 pada Januari.
Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi.
“Optimisme konsumen tetap terjaga berkat stabilitas ekonomi daerah dan persiapan Ramadan yang berjalan lancar,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Berita Terkait:
Stabilisasi Harga Bahan Pokok, Pemkot Malang Rencanakan 20 Kali Gerakan Pangan Murah Selama Ramadan
Pemerintah Kota Malang melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah mengantisipasi tekanan ini sejak awal tahun. Langkah konkret yang dilakukan meliputi operasi pasar murah, pemantauan harga harian di pasar tradisional, serta koordinasi pasokan bahan pokok dengan distributor dan petani untuk menjamin stok menjelang Ramadan.
Inflasi 0,74 persen dinilai masih dalam kategori sedang dan terkendali. Meski begitu, TPID terus mewaspadai potensi lanjutan kenaikan harga pangan musiman.
Dengan pengendalian yang ketat, diharapkan tekanan inflasi tidak berdampak signifikan terhadap daya beli keluarga berpenghasilan menengah ke bawah yang bergantung pada belanja harian.







