Malanginspirasi.com – Lonjakan harga plastik kemasan hingga 50 persen telah membebani ribuan pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. Banyak di antara mereka terpaksa memangkas keuntungan sendiri atau menaikkan harga jual produk agar tetap bertahan. Padahal daya beli masyarakat semakin tertekan.
Di sejumlah pasar tradisional di Kota Malang serta para pelaku UMKM rumahan, banyak para pedagang yang mengeluhkan biaya operasional yang membengkak.
Viola, salah seorang pemilik UMKM Es Teler di Kota Malang, mengatakan harga cup plastik naik Rp2.000 per pak. Hal ini membuat margin keuntungannya yang tipis semakin tergerus akibat naiknya harga plastik untuk kemasan produk minumannya.
“Serba repot. Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa kabur. Tapi kalau tidak, keuntungannya habis kesedot untuk beli cup plastik,” tuturnya.
Es teler creamy bikinannya dijual Rp10.000 per cup. Ia juga membuka pesanan “Jumat Berkah” untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

Suplai Terganggu Akibat Penutupan Selat Hormuz
Melonjaknya harga plastik berbagai jenis ini dipicu gangguan pasokan bahan baku utama plastik, yaitu nafta, akibat konflik Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Iran versus Amerika Serikat-Israel yang membuat Selat Hormuz diblokir sejak akhir Februari 2026.
Indonesia yang mengimpor 60–70 persen nafta dari Timur Tengah terdampak langsung. Harga nafta global naik hampir 45 persen dalam sebulan, dari sekitar 630 dolar AS per ton menjadi 917 dolar AS per ton per 1 April 2026.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyebut industri plastik saat ini berada dalam “survival mode”.
“Selat Hormuz ditutup, 70 persen bahan baku tidak bisa dikirim. Harga naik bertahap setiap pekan,” katanya.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah sedang menjajaki pasokan alternatif dari India, Afrika, dan Amerika Serikat.
Namun, hingga kini dampak jangka pendek masih dirasakan pedagang kecil yang bergantung pada kantong kresek, cup, dan plastik wrap sekali pakai.
Banyak UMKM kuliner kini beralih ke strategi irit pemakaian plastik atau membatasi pemberian kantong, meski tetap khawatir omzet terus menurun.







