“Indonesia memiliki banyak potensi yang belum tersentuh inovasinya. Supply chain bisa disentuh dengan meratakan keadilan dari petani dan nelayan sebagai salah satu contoh bisnis,” paparnya mengingatkan.

Konferensi ini juga menghadirkan Prof Nafis Alam dari Monash University, Malaysia dengan pemaparan tentang Crypto Economy.
Diungkapkan Nafis, seiring perkembangan zaman, uang terus berevolusi dari semula terbuat dari koin perak hingga menjadi crypto currency atau uang digital.
Dalam penerapan crypto currency, diperlukan block chain yang melibatkan banyak struktur ekonomi.
“Konsep block chain harus dikenalkan dengan mudah agar bisa diimplementasikan dan harus mengetahui risiko untuk keamanan data,” terang Nafis.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (APEDI) Sabdo Yusmintiarto beranggapan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih memiliki kesulitan dalam penerapan crypto economy. Namun, perlahan UMKM Indonesia sudah menyentuh block chain. Yakni merupakan teknologi tercanggih saat ini yang terpercaya untuk menyimpan data. Sehingga, kemudahan block chain harus terealisasi lebih jauh sebagai jembatan dari proyek bisnis.

Terkait BUMDes sendiri, Sabdo menginginkan ke depannya ada sertifikasi untuk direktur BUMDes supaya lebih mudah dalam pengimplementasian kinerjanya.
“Semoga tahun depan BUMDes Award dapat menyentuh seluruh Indonesia supaya menjadi barometer BUMDes yang maju dan yang kurang maju seperti apa,” tuturnya mengakhiri. (HUMAS ITS)







