Malanginspirasi.com – Setiap tanggal 4 Desember merupakan peringatan Hari Bank Internasional.
Momentum ini digunakan untuk mengingatkan kembali pentingnya peran perbankan dalam memberikan informasi serta layanan finansial yang aman bagi masyarakat.
Kehadiran bank tidak hanya membantu mengelola keuangan masyarakat, tetapi juga menjadi penopang utama pembangunan ekonomi suatu negara.
Peran Besar Perbankan
Peringatan ini juga menekankan bagaimana lembaga keuangan berperan besar dalam mendorong pembangunan di negara berkembang.
Mulai dari penyediaan dana untuk proyek infrastruktur, penguatan ekonomi nasional, hingga upaya menurunkan tingkat kemiskinan.
Bank dianggap berkontribusi langsung dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akses keuangan yang lebih merata.

Sejak dahulu, bank sudah memiliki fungsi utama sebagai tempat menyimpan uang masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk pinjaman yang dilindungi regulasi.
Aktivitas serupa sebenarnya sudah terjadi sejak era Renaisans ketika para keluarga kaya di Italia mulai menjalankan aktivitas keuangan yang mirip dengan perbankan masa kini.
Dalam perkembangannya, peran bank semakin besar ketika para pedagang pada masa lalu menitipkan emas dan benda berharga untuk alasan keamanan, jauh sebelum dikenal uang kertas.
Perkembangan Sistem
Kini, sistem perbankan modern terus berkembang dan menawarkan berbagai layanan yang lebih beragam.
Tidak hanya simpanan dan pinjaman, bank juga menyediakan pembiayaan usaha, layanan investasi, transaksi digital, hingga produk produk finansial lainnya.
Semua layanan tersebut dibuat agar kebutuhan finansial masyarakat dan pelaku usaha dapat terpenuhi.
Karena peran inilah, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) kemudian menetapkan 4 Desember sebagai Hari Bank Internasional melalui Resolusi 74/245 pada tahun 2019.
PBB menilai bank pembangunan multilateral serta bank nasional memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Juga mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dunia.
Perbankan juga dianggap sebagai instrumen penting dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Peran tersebut terlihat dari dukungan terhadap pembiayaan infrastruktur, fasilitas kredit untuk pelaku UMKM.
Tak ketinggalan perluasan akses pinjaman bagi masyarakat, hingga inovasi layanan keuangan inklusif.

Bank di Indonesia
Di Indonesia sendiri, pada triwulan I 2025 tercatat ada 1.627 bank yang beroperasi. Jumlah tersebut terdiri dari 105 bank umum dan 1.522 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maupun BPR Syariah (BPRS).
Meski demikian, angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya akibat adanya penutupan beberapa bank.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman memberikan tanggapannya.
Ia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari rendahnya literasi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Turunnya kinerja beberapa lembaga keuangan dipicu oleh minimnya literasi serta kurangnya kesadaran mengelola keuangan di kalangan generasi muda,” ujar Agusman dikutip dari Disway Malang.
Baca Juga:
Puncak Bulan Inklusi Keuangan 2025, OJK Tekankan Literasi Untuk Lawan Modus Penipuan
Untuk mengatasi masalah tersebut, OJK telah memperketat aturan melalui SEOJK 19/2025 yang mengharuskan peminjam dana berusia minimal 18 tahun serta memiliki penghasilan setidaknya Rp3 juta.
“Kami juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak memanfaatkan layanan pinjaman daring,” tambahnya.
Melalui peringatan ini menunjukkan pentingnya literasi keuangan bagi masyarakat, terutama generasi Z, agar tidak terjebak dalam risiko finansial yang merugikan.








