Sejarah Sweater Rajut, Dari Pakaian Nelayan dan Pekerja ke Ikon Musim Dingin

Malanginspirasi.com – Sweater rajut tebal yang menghangatkan ini ternyata berkembang dari kebutuhan praktis masyarakat pesisir Eropa. Ini sejarah menariknya.

Rajutan tangan dari wol sudah ada sekitar 2.000 tahun, tetapi pakaian rajutan pertama dibuat pada abad ke-15 di kepulauan Selat Inggris, tepatnya di Guernsey dan Jersey.

Sejarah Singkat

Berakar dari istri para nelayan dan pelaut yang membuat pakaian ini dari wol alami, dengan mempertahankan minyaknya, sehingga tahan dingin, bahkan saat basah.

Penggunaan jersey kemudian populer di Eropa, terutama di kalangan pekerja. Pada tahun 1890-an, atlet di Amerika Serikat memakainya dan menyebutnya sebagai sweater.

Baca Juga:

Sejarah High Heels: Dari Sepatu Pria Jadi Simbol Feminin

Sweater pertama berupa pullover tebal berwarna biru tua yang digunakan oleh atlet untuk menghangatkan diri sebelum dan sesudah bertanding.

Pada era 1920-an, desainer seperti Jeanne Lanvin dan Coco Chanel mulai memasukkan sweter ke dalam koleksi rancangan mereka.

Sepanjang abad ke-20, sweter dengan berbagai desain dari serat alami dan sintetis menjadi pakaian populer bagi pria, wanita, dan anak-anak.

Gaya Khas dan Filosofi

Beberapa sweater dengan gaya khas dan filosofinya, antara lain;

– Sweater Gansey

Sejarah Sweater Rajut, Dari Pakaian Nelayan dan Pekerja ke Ikon Musim Dingin
Sebuah sweater Gansey antara pola Humber Keel atau pola Whitby. (www.stitchedandstitched.com)

Berasal dari Kepulauan Channel, terletak di antara Inggris dan Prancis, dan telah digunakan sejak abad ke-17 oleh para nelayan serta pelaut.

Alasan dibuat untuk kebutuhan kerja di laut lepas, sehingga dirancang sangat kuat, tahan angin, dan tahan air.

Gansey menggunakan wol yang masih mengandung lanolin, minyak alami dari domba yang membuat kain bersifat water-repellent.

Dirajut dengan teknik in-the-round yang tidak memiliki sambungan di sisi kanan-kiri, membuatnya lebih hangat dan tahan lama.

Bagian ketiak menggunakan teknik gusset agar pemakainya dapat bergerak bebas ketika menarik jaring.

Meskipun desain dasarnya sederhana, pola-pola Gansey mencerminkan identitas komunitas pesisir, seperti motif tali, gelombang, atau berlian.

Setiap daerah memiliki pola khas, dan meski beberapa mitos menyebutkan bahwa motif itu digunakan untuk mengenali nelayan yang hilang di laut.

Kisah tersebut lebih merupakan legenda rakyat yang menggambarkan betapa pentingnya Gansey dalam budaya maritim.

– Sweater Aran

Sejarah Sweater Rajut, Dari Pakaian Nelayan dan Pekerja ke Ikon Musim Dingin
Potrait nelayan Irlandia kuno yang memakai sweater Irlandia. (www.sweatershop.com)

Sweater Aran berasal dari Kepulauan Aran di Irlandia. Bukan sekadar pakaian untuk kerja, sweater ini merupakan bagian dari simbol budaya dan warisan keluarga (clan).

Karena banyak keluarga memiliki kombinasi motif khas yang diwariskan turun-temurun. Aran bahkan dipakai dalam acara khusus dan sering dijadikan hadiah pernikahan.

Aran menggunakan wol lokal yang tebal dan hangat dengan ciri khas pola kabel tiga dimensi yang sangat rumit.

Motif-motif ini memiliki makna simbolis, cable knit menggambarkan tali nelayan dan kekuatan, honeycomb melambangkan kerja keras.

Lalu basket stitch menggambarkan harapan akan kesejahteraan dan diamond stitch melambangkan ladang serta keberuntungan.

Popularitasnya meledak secara global pada tahun 1950-an setelah muncul di majalah mode internasional dan dikenakan selebritas. Menjadikannya ikon estetika musim dingin hingga sekarang.

Simbol Musim Dingin
Sejarah Sweater Rajut, Dari Pakaian Nelayan dan Pekerja ke Ikon Musim Dingin
Seorang wanita dengan sweater musim dingin yang nyaman dan topi menarik selendang di atas mulutnya di hutan musim dingin berkabut. (depositphotos.com)

Seiring berkembangnya zaman, yang awalnya memiliki fungsi praktis, sweater menjadi simbol musim dingin karena beberapa alasan.

Pertama, wol dan rajutan rapat memberikan isolasi termal. Isolasi termal merupakan proses atau material yang berfungsi untuk memperlambat perpindahan panas antara dua area dengan suhu berbeda.

Oleh karena itu, hal ini sangat membantu dalam menjaga suhu tubuh tetap stabil saat di dalam ruangan dan saat di luar ruangan yang dingin.

Kedua, desain berlapis mudah dipadupadankan, serta visual “cozy” (berkesan hangat dan aman) cocok untuk citra nostalgia musim dingin.

Selain itu, budaya popular yang ditampilkan lewat film hingga kampanye merek menguatkan asosiasi sweater dengan suasana liburan dan salju.

Di Indonesia sendiri, adaptasi sweater menunjukkan bagaimana mode menembus batas iklim.

Lewat industrialisasi tekstil, urban lifestyle, dan kekuatan budaya pop, pakaian hangat ini berubah menjadi item fashion yang relevan, meski suhu tropis tetap menjadi latar.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *