Kolaborasi Mahasiswa UMM PMM dan Warga Sidorahayu dalam Gerakan Biopori Ramah Lingkungan

Malanginspirasi.com – Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) tahun 2025 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Dalam program yang berlangsung 20-21 Agustus 2025 ini, para mahasiswa tidak hanya sekadar hadir untuk belajar bersama masyarakat, tetapi juga membawa gagasan berupa program unggulan biopori yang terbukti bermanfaat bagi lingkungan sekaligus kehidupan sehari-hari warga.

Pembuatan lubang biopori ini sebagai upaya menjaga lingkungan sekaligus memberikan solusi sederhana untuk mengatasi permasalahan sampah organik dan genangan air di musim hujan. Program biopori dipilih karena dianggap sebagai solusi sederhana namun berdampak besar.

Lubang kecil yang dibuat di tanah ini mampu mempercepat penyerapan air hujan, mencegah genangan, sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos yang bisa digunakan kembali sebagai pupuk alami.

Survei Lahan dan Persiapan

Sebelum proses pembuatan, mahasiswa melakukan survei lapangan untuk menentukan lokasi terbaik.

Beberapa kriteria dipertimbangkan, seperti lahan yang sering tergenang air, pekarangan warga yang memiliki ruang kosong, hingga sekitar fasilitas umum seperti balai desa dan area sekitar masjid.

Warga juga dilibatkan dalam memberikan masukan mengenai titik-titik yang paling membutuhkan resapan air.

Proses Pembuatan Biopori

Berbeda dengan biopori konvensional yang hanya berupa lubang tanah, mahasiswa UMM PMM berinisiatif membuat alat biopori sederhana dengan memanfaatkan pipa paralon.

Pipa dipotong dengan ukuran panjang sekitar 40 cm sesuai kedalaman biopori. Pada bagian sisi pipa, mahasiswa melubangi beberapa titik dengan bor agar air dan udara bisa masuk. Bagian atas pipa diberi penutup sederhana, sementara bagian bawah dibiarkan terbuka agar tanah dapat menyerap air dengan maksimal.

Selain berfungsi sebagai media resapan air, pipa paralon ini juga menjadi wadah pengisian sampah organik rumah tangga. Sampah daun, kulit buah, dan sisa sayur dapat dimasukkan ke dalam pipa biopori. Kemudian akan terurai menjadi kompos alami yang bermanfaat bagi tanaman warga.

Sosialisasi Biopori Bersama Ibu-Ibu PKK

Sebagai bagian dari program, mahasiswa UMM PMM juga mengadakan sosialisasi R3 (Reduce, Reuse, Recycle) dan biopori bersama ibu-ibu PKK Dusun Bunder.

Kegiatan ini berlangsung penuh semangat, di mana para ibu mendapatkan pemahaman praktis tentang bagaimana mengurangi sampah sejak dari rumah (Reduce), memanfaatkan kembali barang-barang layak pakai (Reuse), serta mengolah sampah menjadi barang bermanfaat (Recycle).

Lebih dari sekadar praktik, mahasiswa juga menggelar sosialisasi dan pelatihan mengenai cara pembuatan biopori serta manfaat jangka panjangnya.

“Biopori bukan hanya lubang di tanah, tetapi investasi lingkungan untuk generasi mendatang. Selain membantu mengurangi sampah, biopori juga menjaga kesuburan tanah dan mengurangi risiko banjir,” jelas salah satu mahasiswa peserta PMM UMM.

Dalam sesi ini, mahasiswa menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik dengan cara sederhana, salah satunya melalui biopori.

Suasana semakin hidup ketika mahasiswa mengadakan sesi tanya jawab, di mana banyak ibu-ibu menyampaikan pengalaman mereka menghadapi masalah sampah rumah tangga sehari-hari.

Proses Pelubangan Biopori

Setelah sosialisasi, mahasiswa melakukan pemasangan biopori di 8 titik strategis di Desa Sidorahayu. Lokasi pemasangan dipilih berdasarkan kebutuhan lingkungan dan ketersediaan lahan, yaitu:

  • 4 titik di rumah warga Dusun Bunder, untuk mendukung pengelolaan sampah rumah tangga.
  • 2 titik di panti asuhan, agar anak-anak juga terbiasa menjaga lingkungan sejak dini.
  • 2 titik di kebun hortikultura Bunder, untuk memanfaatkan sampah organik pertanian sekaligus menyuburkan lahan kebun.

Setelah lahan dipilih, mahasiswa memulai proses pembuatan dengan menandai titik-titik lubang. Menggunakan linggis dan alat sederhana, mereka bergantian melakukan penggalian tanah hingga kedalaman sekitar 40 –45 cm dengan diameter 10–15 cm.

Proses ini tidak selalu mudah, karena di beberapa lokasi tanah cukup keras sehingga memerlukan tenaga ekstra. Meski begitu, kerja sama antar mahasiswa membuat suasana menjadi penuh semangat.

Pemasangan Biopori 

Setelah lubang selesai dibuat, mahasiswa mengajarkan cara mengisinya dengan sampah organik rumah tangga, seperti daun kering, sisa sayuran, dan kulit buah.

Sampah organik ini akan terurai secara alami dan menjadi kompos, sekaligus memperbaiki struktur tanah di sekitar lubang.

“Kami ingin biopori ini tidak hanya menjadi proyek sekali jadi, tetapi juga kebiasaan baru bagi warga untuk mengelola sampah organik. Dengan begitu, manfaatnya bisa terus dirasakan dalam jangka panjang,” jelas salah satu mahasiswa PMM UMM.

Harapan dan Apresiasi

Warga Sidorahayu menyambut antusias program ini. Mereka merasa terbantu karena biopori bisa menjadi solusi nyata atas masalah sampah organik rumah tangga yang selama ini kerap menumpuk.

Bahkan, beberapa warga berinisiatif melanjutkan pembuatan biopori secara mandiri setelah mendapatkan pengetahuan dari mahasiswa.

Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan masyarakat desa.

Melalui interaksi langsung, mahasiswa belajar memahami kehidupan warga, sedangkan masyarakat mendapat inspirasi baru dari semangat muda yang peduli lingkungan. Dengan demikian, program PMM UMM di Desa Sidorahayu menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama.

Program biopori yang digagas mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi warisan berharga bagi Desa Sidorahayu. Lebih dari sekadar proyek sementara, program ini menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Lubang-lubang kecil biopori kini tidak hanya menjadi bagian dari tanah desa. Tetapi juga simbol kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *