FIA UB Gelar Forum Dialog Keagamaan, Jadi Pemimpin Harus Penuh Toleransi

Malanginspirasi.com – Gamal Albinsaid, mengungkapkan pandangan menarik tentang makna toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Pandangannya ia beberkan dalam forum “Titik Temu: Menjalin Dialog Keagamaan demi Masyarakat yang Inklusif” Fakultas Ilmu Administarsi (FIA) Universitas Brawijaya.

Menurut Anggota Komisi X DPR RI itu, toleransi tidak hanya sebatas sikap saling menghormati.

Tetapi juga berfungsi layaknya hormon sosial yang menumbuhkan rasa hormat dan memperkuat hubungan antar sesama manusia.

“Saya merasakan dan menyimpulkan bahwa toleransi itu adalah hormon. Hasil tertinggi dari toleransi adalah rasa hormat dan hubungan sosial yang baik,” ujarnya di Auditorium Gedung C FIA UB.

Ia menegaskan, ketika masyarakat memahami makna toleransi secara mendalam, maka akan tercipta kenyamanan dan kedamaian sosial di lingkungan sekitar.

Gamal juga menambahkan bahwa nilai toleransi tidak harus diwujudkan melalui hal-hal besar.

Ia memberikan contoh bahwa toleransi bisa muncul dari kebiasaan sederhana seperti cara berpakaian, jenis makanan yang dikonsumsi, hingga gaya beraktivitas sehari-hari.

“Itu mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Hal yang kecil ini apa? Cara kita berpakaian, makanan tadi yang kita makan, ya ataupun dengan menjaga kebersihan, toleransi bisa tumbuh,” ungkapnya.

FIA UB Gelar Forum Dialog Keagamaan, Jadi Pemimpin Harus Penuh Toleransi
Sesi diskusi dengan Gamal Albinsaid (kanan) saat berada di forum. (Riznima Azizah Noer)
Toleransi Kunci Keberhasilan Bermasyarakat

Mengutip publikasi UNESCO berjudul Tolerance: The Threshold of Peace, Gamal menjelaskan bahwa hubungan sosial yang sehat merupakan salah satu kunci dari keberhasilan toleransi di suatu masyarakat.

“Toleransi yang baik menghasilkan kenyamanan individu dan kemanusiaan sosial. Ini menjadi fondasi dari perdamaian,” pungkasnya.

Artikel Terkait:

Titik Temu: FIA UB Jalin Dialog Keagamaan, Ketika Pikiran Menjadi Doa

Disisi lain, Ia menekankan pentingnya peran pemimpin dalam menjaga toleransi dan tidak seharusnya menyinggung, menghina, atau melecehkan keyakinan orang lain.

Melainkan ia harus mampu menebarkan cinta kasih di tengah perbedaan.

“Pemimpin tidak boleh menyinggung, menghina, atau melecehkan keyakinan orang lain. Justru pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menghadirkan cinta kasih di tengah perbedaan,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat kini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan sarana untuk memperkuat persatuan.

“Kita rindu pemimpin yang menciptakan kehadiran di antara perbedaan, dengan sikap menghormati dan penuh cinta kasih,” ujarnya.

Semagai penutup, Gamal mengingatkan bahwa menjadi pemimpin berarti menjaga tutur dan tindakan.

“Pemimpin yang baik tidak mengomentari cara ibadah atau kitab suci agama lain. Ia menghormati, bukan menghakimi,” tutupnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *