Malanginspirasi.com – Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) gelar kegiatan ‘Titik Temu: Menjalin Dialog Keagamaan demi Masyarakat yang Inklusif.’
Forum ini dilaksanakan di Gedung C FIA UB secara hybrid pada Kamis, (6/11/2025).
Dalam sesi diskusinya, Sila UUN Triya, Ketua LPPM STAB Kertarajasa menekankan bahwa segala sesuatu di dunia ini bermula dari pikiran.
Pikiran Pengontrol Tindakan
Ia juga menambahkan dalam ajaran Buddha, pikiran adalah pelopor dan pembentuk kenyataan.
“Agak sedikit ajaran buddha, di dalam kita pikiran itu adalah pelopor, pikiran adalah pembentuk. Jadi apapun yang terjadi pada alam ini, termasuk hidup kita, tergantung dari pikiran kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan salah satu kunci dalam ajaran Buddha adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang diawali dengan pandangan benar.
“Pikiran itu yang mengontrol seluruh fisik kita. Maka di dalam ajaran agama Buddha, Ada yang namanya delapan jalan mulia, jalan mulia berunsur delapan. Yang itu diawali dengan pandangan benar sebenarnya. Jadi pandangannya itu harus lurus dulu,” jelas Sila.

Sila mencontohkan, apabila orang terlalu mempercayai ramalan atau tarot sebagai penentu nasib itu merupakan pandangan yang salah.
“Ketika misalnya kita melihat, ramalan atau tarot biasanya. Kalau pandangan kita sudah benar-benar percaya bahwa ramalan itulah yang akan menentukan hidup kita. Meskipun bisa jadi terjadi maupun tidak, itu adalah pandangan yang tidak tepat. Atau kami biasa mencoba sebagai pandangan salah,” jelasnya.
Ia menilai, kesalahan pandangan tersebut akan berdampak pada perilaku dan etika seseorang.
“Contohnya seperti mahasiswa yang percaya kalau dia akan lulus tanpa skripsi, itu hasil ramalannya. Akhirnya tidak ada usaha dan tidak menjaga etika. Bagaimana bisa ramalan itu terwujud?” imbuhnya.
Menurutnya, pikiran adalah energi yang menggerakkan jasmani melalui ucapan, perbuatan, dan usaha.
Pentingnya Konsep TEAR
Lebih lanjut, Romo David, Sekjen Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB), menyampaikan refleksi tentang kekuatan pikiran melalui akronim TEAR atau air mata.
“Air mata itu ada dua: suka cita dan duka cita. T-E-A-R adalah Thinking, Emotion, Action, Result,” ungkapnya.
Baca Juga:
Berbeda Warna Satu Canvas, FIA UB Hadirkan Forum Moderasi Beragama
Ia menjelaskan bahwa pikiran akan memengaruhi emosi, emosi memengaruhi tindakan, dan tindakan memengaruhi hasil.
Ia memberi contoh dari pengalamannya saat memimpin apel kebangsaan lintas agama pada 1 November lalu. Meskipun hujan deras beberapa hari sebelumnya, ia tetap berpikir positif.
“Saya setting pikiran saya, jam dua sampai jam empat tidak hujan, dan benar, acara berjalan tanpa hujan,” pungkasnya.
Sebagai penutup ia menilai bahwa hasil positif itu muncul karena kekuatan pikiran dan energi yang positif juga.
“Kalau mau air mata suka cita, mulai dari pikiran yang positif,” tutupnya.








