‘Festival Kata’: Upaya DEMA Fakultas Humaniora UIN Malang Tumbuhkan Jiwa Kesusastraan Mahasiswa

Malanginspirasi.com – Festival Kata, merupakan sebuah acara yang diinisiasi oleh Divisi Riset dan Kajian Strategis dari DEMA Fakultas Humaniora.

Acara ini menjadi salah satu langkah nyata dalam menumbuhkan kembali jiwa kesusasteraan di lingkungan kampus, khususnya mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Dalam wawancara bersama Nur Robi’ Ari Saputra, selaku ketua pelaksana sekaligus mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab.

Ia menjelaskan bahwa divisi ini lahir dari keresahan Gubernur DEMA Fakultas Humaniora terhadap minimnya wadah yang mengkaji isu-isu sosial dan juga identitas Fakultas Humaniora, terkhusus pada aspek sastra.

“Divisi ini muncul berlatar belakang itu, ingin menumbuhkan rasa empati, kepada isu-isu sosial, mengangkat isu-isu sosial, dan juga ingin membangun rasa jiwa kesusasteraan dalam Fakultas Humaniora,” jelas Nur Robi’.

Program Kerja

Divisi Riset dan Kajian Strategis ini memiliki dua program utama, yaitu Suara Arah Pandangan (SAPA) dan Festival Kata.

SAPA ini berfokus pada kajian isu-isu aktual, seperti kejadian demo, hingga statement kebijakan-kebijakan pemerintahan yang merugian rakyat.

Kemudian dikemas dalam bentuk artikel dan dijadikan sebuah konten brief yang disebarkan lewat media sosial, seperti Instagram.

'Festival Kata': Upaya DEMA Fakulta Humaniora UIN Malang Tumbuhkan Jiwa Kesusastraan Mahasiswa
Nur Robi’ Ari Saputra, selaku ketua pelaksana program ‘Festival Kata.’ (Maulida Fatimah)

Sementara Festival Kata menjadi ruang ekspresi bagi mahasiswa pecinta sastra. Baik melalui diskusi, pameran karya, maupun panggung bebas yang dipersilahkan kepada siapapun yang ingin tampil.

Layaknya seperti baca puisi, musikalisasi puisi, menyanyi, dan penampilan karya lainnya.

Festival Kata

Nur Robi’ menjelaskan bahwa acara ini didasari oleh rasa kepedulian terhadap sastra yang jauh dari kata “diperhatikan” di dalam lingkup Fakultas Humaniora.

“Karena banyak anak Fakultas Humaniora yang mempunyai potensi dalam berkarya sastra, tapi tidak diberikan panggung. Makanya dalam acara ini ada panggung bebas bagi siapapun yang ingin tampil,” ungkap Robi’.

Persiapan acara ini hanya memakan waktu sekitar dua minggu dengan melibatkan 15 anggota panita.

Robi’ mengakui bahwa konsep awal acara sempat berubah karena keterbatasan izin.

“Awalnya skala tempat itu lebih luas dibanding ini. Kemudian konsep pamerannya juga aslinya foto-foto dan karyanya itu di gantung. Tapi karena ada kebijakan dari satpam tidak boleh, makanya kita rubah konsep seperti dipajang ini. Ternyata hasilnya lebih aestethic buat foto,” jelasnya.

Karya-karya pilihan yang dipajang yaitu berupa karya puisi-puisi W.S. Rendra, puisi-puisi Sutarji, serta foto-foto pahlawan, baik pahlawan yang diakui maupun tidak oleh pemerintah, seperti Tan Malaka.

Tema Kegiatan

Robi’ mengungkapkan bahwa tema acara ini yaitu untuk memperingati bulan kepahlawanan yang berjuang dengan senjata, maupun yang berjuang dengan kata, seperti sosok W.S. Rendra.

Menariknya, acara ini juga bertepatan dengan hari kelahiran W.S. Rendra (7 November), sehingga panitia menjadikannya Rendra sebagai figur yang dikaji dalam Festival Kata tahun ini.

Artikel Terkait:

Bedah Karya Penyair dan Dramawan W.S. Rendra dalam ‘Festival Kata’ UIN Malang 2025

Meski dihadapkan pada tantangan minimnya minat orang-orang terhadap sastra, Festival Kata tetap berlangsung meriah dan inspiratif.

Panitia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam melahirkan sastrawan baru dari Fakultas Humaniora.

“Saya sudah memikirkan kalau tidak terlalu berekspetasi tinggi terhadap peserta, karena ketertarikan kepada sastra khususnya di Malang itu sangat-sangat minim. Ada yang mendaftar pun, ada yang hadir itupun kita bersyukur,” ujarnya.

“Output dari acara ini ya, pasti ingin menghasilkan sastrawan sastrawan baru
yang dilahirkan dari Fakultas Humaniora UIN Malang,” lanjut Robi’.

Dengan semangat muda dan idealisme yang kuat, Festival Kata menjadi bukti bahwa kesusasteraan masih hidup di kampus.

Tidak hanya di atas kertas, tetapi juga di dalam jiwa generasi penerusnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *