Malanginspirasi.com – Universitas Brawijaya (UB) secara resmi meluncurkan BOUMI, brand personal care anak berbasis bahan alami dan essential oil yang dikembangkan khusus untuk anak usia 4–14 tahun.
Peluncuran ini bukan sekadar momen komersialisasi, melainkan tonggak penting dalam ekosistem inovasi UB yang dibangun di atas model Penta Helix ABCGM: Akademisi (Universitas Brawijaya), Business (Cedefindo–Martha Tilaar Group), Community (Batu Love Garden–Jatim Park), Government (Direktorat Inovasi & Kawasan Sains dan Teknologi & BMU UB), dan Media.
Bersama, kelima pilar ini mengantarkan inovasi dari laboratorium kampus langsung ke tangan keluarga Indonesia.
Keberhasilan BOUMI tidak bisa dilepaskan dari arsitektur kolaborasi yang dibangun secara sistematis oleh UB. Prof. Unti Ludigdo, Wakil Rektor Bidang V UB yang membidangi Riset, Inovasi, dan Kerjasama, menyebut BOUMI sebagai model paling konkret dari Penta Helix ABCGM yang selama ini digaungkan dalam kebijakan inovasi nasional. Sebuah rantai yang dimulai dari riset, melewati kolaborasi bisnis dan komunitas, diperkuat peran pemerintah, dan diperluas jangkauannya oleh media.

Dari sisi Akademisi, Universitas Brawijaya menyumbang riset dasar, formulasi, dan pengelolaan kekayaan intelektual melalui Direktorat Inovasi & Kawasan dan Sains Teknologi. Pilar Business diisi oleh Cedefindo dari Martha Tilaar Group, yang memastikan produk kampus memenuhi standar produksi GMP sehingga layak bersaing di pasar nasional dan berpotensi diekspor.
Sedangkan Pilar Community diwakili oleh Batu Love Garden (Jatim Park), yang membuka jalur distribusi langsung ke segmen wisata keluarga — orang tua yang mengunjungi Jatim Park adalah persis profil konsumen BOUMI: sadar kualitas, peduli produk untuk anak.
Pilar Government hadir melalui BMU UB sebagai Brawijaya Multi Usaha yang merancang model revenue sharing antara UB, mitra industri, dan peneliti, menjaga keberlanjutan ekosistem inovasi dari waktu ke waktu.
“Adapun pilar media berperan memperluas jangkauan narasi inovasi lokal ini kepada publik yang lebih luas — bahwa riset Indonesia mampu melahirkan produk premium berdaya saing global,’ kata Prof. Unti Ludigdo.







