Malanginspirasi.com – Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Cor Jesu Malang gencar mempersiapkan siswa kelas 9 jelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP yang dijadwalkan pada 8 dan 9 April 2026.
Persiapan ini difokuskan pada dua mata pelajaran utama yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika, dengan penekanan pada kemampuan bernalar dan pemahaman konsep mendalam.
Guru matematika, Dorkas Ati, S.Pd mengatakan bahwa para guru di SMPK Cor Jesu menerapkan dua metode utama dalam mempersiapkan siswa.
“Pertama, kami membiasakan proses bernalar dalam setiap pembelajaran sehari-hari,” katanya kepada wartawan Malang Inspirasi.
Ia juga mengatakan bahwa para guru mengenalkan berbagai bentuk soal model TKA secara rutin.
“Dengan demikian siswa terbiasa dengan karakteristik soal yang menekankan Higher Order Thinking Skills (HOTS),“ lanjutnya.
Baca Juga:
Dispendik Kabupaten Malang Ajak Siswa SD dan SMP Persiapkan Diri Lewat Simulasi TKA
Menurut guru matematika SMPK Cor Jesu ini, para guru tidak hanya mengajari siswa untuk menghafal saja.
“Tapi kami melatih siswa untuk berpikir kritis dan logis melalui pembelajaran yang aktif,” katanya.
Dorkas juga menjelaskan bahwa para guru menerapkan metode pembelajaran dengan mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan siswa.
“Caranya dengan melakukan asesmen secara berkala selama kegiatan pembelajaran,” imbuh dia.
Selain itu, papar Dorkas, hasil dari berbagai uji coba (try out) TKA menjadi acuan penting.
“Dari analisis tersebut, guru dapat mengetahui bagian soal mana yang mungkin menyulitkan siswa, sehingga dapat memberikan penguatan dan remedial yang tepat sasaran,” lanjutnya.
Tak hanya itu, manajemen waktu pembelajaran juga menjadi perhatian serius dari para guru.
Guru di sekolah yang terletak di Jln. Jaksa Agung Suprapto ini menyusun rencana pembelajaran yang matang dan melaksanakannya secara efektif.
“Dengan memilih materi ajar yang esensial dan prioritas, semua kompetensi yang dibutuhkan dalam TKA dapat tercakup tanpa terburu-buru,”
Dalam hal motivasi, guru tidak hanya mengandalkan nilai semata.
Mereka menyampaikan tujuan pembelajaran secara kontekstual, sehingga siswa memahami manfaat materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Para guru rutin memberikan umpan balik (feedback) pada hasil pekerjaan siswa yang mendorong kemampuan berefleksi dan menumbuhkan daya juang (resilience).
“Siswa juga pernah memberikan masukan mengenai materi yang mereka anggap paling sulit. Masukan tersebut kami jadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi pengajaran,” pungkas Dorkas.
Persiapan intensif ini diharapkan dapat membantu siswa SMPK Cor Jesu menghadapi TKA dengan percaya diri.







