Malanginspirasi.com – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat sistem kesehatan mental mahasiswa melalui penekanan akan pentingnya deteksi dini, budaya menjadi pendengar aktif, dan sistem penanganan yang terintegrasi di lingkungan kampus.
Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran UB, dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ, mengatakan saat ini intervensi kesehatan mental semakin kompleks seiring dinamika kehidupan mahasiswa yang beragam.
”Mahasiswa jarang jatuh ke dalam krisis karena satu sebab saja,” kata Frilya dalam Sosialisasi Penguatan Mental Health Mahasiswa di Gedung Widyaloka Malang, Selasa (7/4/2026),
Menurutnya, tekanan mental tumbuh dari akumulasi berbagai faktor, mulai keluarga, relasi, akademik, pengalaman kekerasan, sampai ketidaktahuan mencari bantuan.
Frilya katakan mahasiswa berada di fase perkembangan psikologis transisi dari remaja menuju dewasa.
“Fase pencarian jati diri ini rentan memicu kebingungan peran yang berdampak pada tekanan mental jika tidak mendapat dukungan lingkungan yang kuat,” sambungnya.
Oleh karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk mengubah pendekatan dari reaktif menjadi proaktif.
Kampus diharapkan mempunyai sistem yang mampu membaca risiko sejak dini serta merespons secara cepat dan tepat.
”Kampus tidak bisa hanya reaktif. Kampus perlu memiliki ‘radar’, bukan sekadar ‘ambulans’. Artinya, kita harus mampu membaca sinyal awal sebelum krisis benar-benar terjadi,” ujar Frilya.
Frilya menambahkan, sistem tersebut harus mencakup ketersediaan pendengar aktif, alat bantu konseling, hingga alur rujukan yang jelas.
Kendati UB sudah menyediakan layanan konseling gratis sejak 2017, Frilya menilai layanan tersebut perlu diperkuat menjadi sistem yang komprehensif.
Ada tiga hal utama yang menjadi fokus, yakni memastikan akses pembiayaan layanan seperti BPJS, mendorong seluruh elemen kampus menjadi pendengar aktif, serta membangun sistem promotif, preventif, dan kuratif yang terstruktur.
Baca Juga:
Selain penguatan sistem pendampingan, UB menerapkan kebijakan toleransi nol (zero tolerance) terhadap perundungan dan kekerasan seksual yakni melalui sanksi tegas bagi pelaku sebagai bentuk perlindungan mahasiswa.
UB membangun jejaring pengaman (safety net) kesehatan mental dalam implementasinya.
Layanan konseling menjadi garda terdepan di tingkat internal.
Sedangkan di tingkat eksternal, UB berkolaborasi dengan Program Indonesia Sehat Jiwa serta dukungan klinis melalui Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB).
Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, mengatakan penanganan kesehatan mental perlu pendekatan utuh mulai dari promotif hingga rehabilitatif.
”Kami juga bekerja sama dengan layanan IGD dan tenaga ahli di RSUB sebagai bentuk penanganan krisis bagi mahasiswa,” kata Sofia.







