Malanginspirasi.com – Program Doktor Mengabdi (DM) Universitas Brawijaya (UB) tahun 2025 yang diketuai oleh Dr. Yusron Sugiarto, STP., MP. MSc., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB melakukan transformasi limbah kambing menjadi pupuk organik bernilai jual.
Tumpukan limbah kambing tersebut sebelumnya hanya menimbulkan bau tidak sedap di kandang-kandang warga Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.
Tim ini berhasil menghadirkan perubahan nyata di desa yang berjarak sekitar 305 km dari Kota Malang tersebut bersama dua dosen anggota dan tujuh mahasiswa peserta program Mahasiswa Membangun Desa – Doktor Mengabdi (MMD – DM),
Desa Secang menyimpan potensi besar di sektor pertanian dan peternakan.
Istana Herbal Kopi Secang (IHKS), mitra utama program ini, merupakan kelompok UMKM dengan 25 anggota aktif yang bergerak di bidang agroforestri kopi dan produk herbal.
Namun kotoran kambing dari ternak warga hanya dibiarkan menumpuk selama bertahun-tahun.
Padahal, kotoran kambing mengandung Nitrogen 1,19 persen, Fosfor (P₂O₅) 0,92 persen, dan Kalium (K₂O) 1,58 persen – kandungan hara yang sangat potensial untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Kondisi ekonomi warga makin parah karena ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya terus meningkat.
Sementara potensi emas dari limbah ternak itu dibiarkan tersia-sia.
Baca Juga:
Dukungan Pupuk Organik REGEN Lewat Demplot di 33 PAC HKTI Kabupaten Malang
Salah satu terobosan utama adalah pengadaan Mesin Perajang dan Penggiling Serbaguna 7 HP yang mampu mengolah kotoran kambing dengan kapasitas 100 – 150 kg per jam.
Mesin ini menjadi jantung dari sistem produksi pupuk organik yang dibangun di Markas Ekoliterasi Merdeka (MEM) Desa Secang.
Tim bersama warga bergotong royong membangun satu unit rumah produksi pupuk organik berbahan bambu Gigantochloa apus dan plastik UV transparan, konstruksi lokal yang murah, ramah lingkungan, dan bisa direplikasi secara mandiri di sisi infrastruktur.
“Dengan mesin ini, kotoran kambing yang sebelumnya hanya menjadi masalah kini bisa diolah menjadi pupuk berkualitas dalam waktu singkat,” ujar Yusron.

Tujuh mahasiswa MMD – DM masing-masing menjalankan satu program kerja yang saling melengkapi. Dimulai dari sosialisasi cara operasi mesin penggiling, dilanjutkan dengan pelatihan teknik fermentasi bertema “Gerakan Pupuk Mandiri, Kebun Subur” dimana peserta diajarkan meracik campuran kotoran kambing, EM4, dolomit, molase, dan sekam yang difermentasi selama 14 – 21 hari.
Seorang mahasiswa lainnya menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi enam tahapan agar kualitas pupuk terjaga konsisten.
Demonstrasi langsung aplikasi pupuk organik berlangsung di kebun kopi organik milik warga, satu-satunya kebun kopi di desa yang sudah sepenuhnya bebas pupuk kimia.
Total lebih dari 95 peserta terlibat dalam tujuh sesi sosialisasi selama Juli – Agustus 2025.
Yang tak kalah menarik adalah lahirnya identitas produk baru dari program ini bernama “Pupuk Kanara”.
Dalam sesi pelatihan branding dan pemasaran, warga mulai dari ibu rumah tangga hingga remaja Karang Taruna diajak merancang logo, desain kemasan, dan strategi distribusi produk pupuk organik lokal mereka.
Sebelum pelatihan, hanya 64,4 persen peserta yang memahami pentingnya branding bagi produk pertanian.
Sngka itu melonjak ke 100 persen pencapaian yang mencerminkan betapa antusiasnya masyarakat Desa Secang dalam menyambut perubahan setelah pelatihan.
Program ini juga menyentuh aspek kewirausahaan secara konkret.
Warga diajarkan cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) pupuk organik yang hanya sebesar Rp 3.580 per kilogram, dengan harga jual yang direkomendasikan Rp 5.000 per kemasan (margin keuntungan 30 persen).
Jika terjual lima kemasan per hari, keuntungan bersih mencapai Rp 7.100 per hari – setara Rp 213.000 per bulan.
Titik impas usaha (Break Even Point/BEP) tercapai pada penjualan 106 kemasan per bulan.
“Ini bukan sekadar soal pupuk. Ini tentang bagaimana warga bisa mandiri secara ekonomi dari sumber daya yang ada di halaman kandang mereka sendiri,” kata salah satu mahasiswa peserta program.
Pengukuran efektivitas seluruh program secara ilmiah menggunakan metode Normalized Gain (N-Gain).
Hasilnya menggembirakan: lima dari tujuh program masuk kategori Efektif dengan N-Gain di atas 76 persen, sementara dua program lainnya masuk kategori Cukup Efektif (N-Gain 74,9–75 persen).
Dengan semangat gotong royong warga, dukungan mitra IHKS, dan komitmen tim akademisi UB, mimpi itu kini tengah berproses menjadi kenyataan di sudut timur Pulau Jawa.
“Harapan utama adalah terobosan ini mampu memutus ketergantungan petani pada pupuk kimia mahal sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang mandiri di Desa Secang,” papar Yusron.
Ia melanjutkan kini limbah ternak tidak lagi menjadi masalah lingkungan melainkan mesin penggerak kesejahteraan.
“Jika konsistensi produksi tetap terjaga pasca-pendampingan, kemandirian ekonomi ini bukan lagi sekadar potensi, melainkan kepastian yang akan meningkatkan pendapatan rumah tangga warga secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Diharapkan kolaborasi antara petani, pemerintah desa, dan pendamping program dapat terus diperkuat agar inovasi ini mampu direplikasi di wilayah lain melalui terobosan ini.
Dengan demikian, Desa Secang dapat menjadi contoh nyata desa mandiri yang berhasil mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi yang berdaya guna dan berkelanjutan







