Sebelum pelatihan, rata-rata skor pengetahuan siswa adalah 5,8, yang mengindikasikan pemahaman yang masih terbatas. Namun, setelah pelatihan, rata-rata skor meningkat menjadi 7,5. Analisis data membuktikan bahwa perubahan ini signifikan secara statistik.
Indah menilai, pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa secara individu, tetapi juga membawa dampak sosial yang positif. Para siswa yang terlatih kini memiliki kepercayaan diri untuk bertindak cepat dalam situasi darurat, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun tempat umum lainnya.
“Kita perlu menjadikan pelatihan BLS sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan siap siaga,” tegasnya.
Menurut salah satu peserta pelatihan, Reza, siswa SMA Negeri 2 Malang, mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak tahu harus berbuat apa jika dihadapkan dengan kasus henti jantung.
“Setelah pelatihan ini, saya merasa lebih siap dan percaya diri untuk membantu jika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.







