Malanginspirasi.com – Transisi energi merupakan salah satu dari berbagai bahasan dalam sosialisasi program Smart Green Campus (SGC) Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. pada acara yang berlangsung di Gedung Filkom pada Senin (19/1/2026) tersebut.
“Selain digitalisasi, Universitas Brawijaya juga mulai mengimplementasikan transisi penggunaan energi secara bertahap,” katanya. “Dalam hal ini penggunaan listrik ramah lingkungan menjadi perhatian utama.”
Ia menambahkan bahwa sebagai bagian dari upaya tersebut adalah penggunaan lampu LED sebagai pengganti lampu konvensional.
Selain itu juga ada upaya pemanfaatan sumber energi terbarukan.
“Mayoritas sumber listrik kan batu bara. Jadi nanti kita ubah listrik yang kita gunakan bersumber dari sumber terbarukan secara bertahap,” katanya.
Selain transisi energi, pengelolaan limbah juga menjadi sorotan penting.

Salah satu yang menjadi prioritas utama adalah limbah laboratorium.
Menurutnya, visi mendatang adalah zero waste yakni pengolahan kembali limbah menjadi produk bernilai guna.
“Produk-produk tersebut seperti kompos, kemudian biogas sampai bioetanol yang terintegrasi dengan riset serta inovasi teknologi,” tegas dia.
Tak hanya itu, UB juga selalu mendorong transformasi sistem administrasi serta proses pembelajaran.
Contohnya adalah penggunaan berbasis kertas yang berubah ke arah digital.
Hal ini guna mengurangi limbah serta konsumsi sumber daya alam.
Pada intinya, Prof. Widodo katakan konsep Green Campus tak sekadar bahas kebersihan lingkungan.
“Tetapi juga perubahan pola pikir sivitas akademika,” pungkasnya.
UPT UB Green Campus Sebagai Penggerak Prinsip Keberlanjutan di Program SGC
Pada kesempatan yang sama, ketua UPT UB Green Campus Sri Suhartini, Prof. STP., M.Env.Mgt., Ph.D. juga menjelaskan implementasi prinsip keberlanjutan.

“Peran kami sebagai motor penggerak implementasi program serta teknologi yang mengarah pada efisiensi energi serta air, juga meminimalisir limbah serta emisi karbon,” jelasnya.
Wanita yang akrab disapa Neneng ini menambahkan bahwa harapannya program Smart Green Campus ini menghasilkan output yakni publikasi ilmiah.
Menurutnya, setiap pimpinan fakultas hadir untuk dapat memastikan berjalannya implementasi SGC.
Dalam acara sosialisasi tersebut, juga terdapat pemaparan petunjuk teknis Program SGC 2026 untuk tim SDG Fakultas.
Tim SDG Fakultas akan mengikuti penilaian SGC dengan berbagai instrumen sebagai implemetnasi kegiatan.
Penilaian berfokus pada implementasi kegiatan minimal tiga dari lima kategori yakni Waste, Water, Energy and Climate Change, Setting and Infrastructure, serta Transportation.
Tiap perwakilan fakultas dapat menberikan hasil pencapaian dalam bentuk video, berita, dan laporan akhir.







