Malanginspirasi.com – Kota Batu memang dikenal sebagai kota wisata, tapi kali ini bukan tentang itu. Di sudut Jalan Hasanudin Junrejo, berdiri sebuah art space dan studio rekaman rumahan yang jadi tempat lahirnya karya seni dan musik dari orang-orang biasa.
Adalah Joyo Sentiko Art Space & Music Studio. Tempat ini bukan sekadar dapur rekaman, studio ini jadi ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berkarya dan menyalurkan minat berkesenian.
Didirikan oleh Pranoto Gomo (32), seorang bapak dua anak, studio ini lahir dari kegelisahan pribadi. Tepatnya usai ia lulus SMA pada 2012,
Gama sapaan akrabnya, mendirikan music studio kecil-kecilan. Barulah setelah lulus dari kuliahnya pada 2015 ia melengkapinya dengan art space.
“Pengen mewadahi. Aku merasa dulu untuk berkarya itu susah. Nggak ada fasilitas. Nggak ada tempat. Jadi aku ingin adik-adik, teman-teman, siapa pun yang mau, punya tempat untuk berkarya,” kata Gama saat ditemui Malang Inspirasi di studionya.
Tempat Berkarya untuk Siapa Saja
“Semua orang punya hak dan kewajiban yang sama untuk berkarya, berekspresi, dan mengapresiasi,” lanjut Gama.
Ia menjelaskan jika Joyo Sentiko bukan hanya sekedar tempat untuk mencari uang. Ada hal lain yang lebih besar baginya.
Gama justru ingin membangun lingkungan berkesenian yang sehat. Dari sini pula ia menggagas Junrejo Art Cindycate (JAC), komunitas kecil dengan target rutin menciptakan satu karya setiap bulan.
“Aku senang produksi, senang berkesenian. Kalau mau cari uang dari seni, di JAC teman-teman bisa bikin karya dan kita bantu jualkan. Targetnya sebulan mereka harus menciptakan satu karya,” ungkapnya.

Studio Rekaman Ramah Kantong
Sementara itu, music studio menjadi sumber pemasukan bagi Gama untuk terus bisa berkarya. Dirinya tidak mematok harga yang terlalu tinggi untuk produksi lagu.
“Patokannya nggak kaku, disesuaikan kesulitan. Beda dengan dapur rekaman lain. Uangnya aku putar lagi buat berkarya. Aku hidup untuk seni, bukan seni untuk hidup,” ujarnya sambil tersenyum.
Joyo Sentiko dikenal ramah untuk band punk dan musik underground. Nama-nama seperti Last Car Bitch (band punk legendaris Malang), The Belcamp Trees dan Gerbong Maut pernah merekam lagu mereka di sini.
Fokusnya memang banyak di punk, karena Gama mengaku lebih mudah suka dengan semangat DIY dan kejujuran musik ini.
Seni sebagai Jalan Hidup
Latar belakang Gama sebenarnya D3 Keperawatan. Tapi ia memilih jalan sebagai seniman.
“Bekerja itu nanti. Berkarya dulu, biar hidup lebih bermakna. Syukur kalau orang lain bisa ikut merasakan. Seni itu belajar hidup,” ungkapnya.

Saat ditanya soal teknologi seperti AI, Gama santai menanggapi.
“AI itu alat aja. Bisa bantu bikin karya, tapi nggak bisa curahkan rasa. Ngapain ditolak?”
Di balik rumah sederhana itu, Joyo Sentiko Art Space & Music Studio berdiri seolah sebagai saksi perjalanan banyak seniman muda. Sebuah bukti bahwa dari ruang kecil, bisa lahir banyak karya.







