Malanginspirasi.com – Di tengah suasana Art Exhibition Lintas Jalur Langit yang penuh warna, ada satu lukisan menarik perhatian Wali Kota Malang, hingga karya itu dibeli langsung.
Sebuah potret wajah Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang divisualisasikan dengan detail, perpaduan antara realisme dan surealisme.
Lukisan ini bukan hanya sekedar karya visual, melainkan mengandung sebuah pesan akan kebanggaan, semangat, dan identitas Kota Malang.
Ketika ditanya mengenai karyanya, Budi Widyanto dengan tenang menjelaskan,
“Malang kan terkenal dengan Arema. Apalagi Pak Wahyu ini salah satu wali kota yang dari Malang. Jadi istilahnya istilah-istilah kewalian, terus mbois, mbois itu kan istilah zaman tahun dulu. Ya mungkin Pak Wahyu masih kecil juga, terus ada istilah mbois. Kan istilahnya Pak Wahyu bilang mesti mbois, Malang mbois. Makanya saya kasih judul nama di sini”, ujar pelukis itu
Bagi Budi, lukisan ini mengandung sebuah pesan yang ingin disampaikan ke masyarakat.
“Pesannya sih, kita harus semangat sesuai dengan bidangnya, ini kan bidang seni ya, sesuai dengan mutunya Pak Wahyu. Kita disini harus ikut mendukung dan menggerakkan ekonomi Kota Malang. Jadi kita seniman juga bisa ikut partisipasi,” ujarnya.
Tiga Minggu Menuangkan Inspirasi ke Kanvas
Proses pengerjaan lukisan ini pun tidak singkat. Ia mengaku bahwa lukisan ini membutuhkan waktu sekitar 3 minggu.
Dengan menggunakan cat minyak, ia menuangkan inspirasi dan gagasanya ke atas canvas.
Perjalanan pelukis dalam dunia seni ini sudah cukup lama.
“Sebenarnya sih sudah lama saya. Cuma karena kegiatan, banyak kegiatan lain akhirnya ini baru mulai lagi,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa dirimya menekuni seni sejak menduduki bangku kuliah.
“Saya mulai masih kuliah. Iya masih kuliah, masih kuliah,” ungkapnya.
Persoalan aliran seni, ia cenderung menggunakan aliran realisme, namun dengan campuran surealisme.
“Ini ya, kalau saya sih realis, tapi kalau udah kayak gini ini udah masuk surealis. Jadi peke singa dan manusia kan ini gak masuk akal kan sebenarnya. Nah kalau surealis itu seperti kita di dunia mimpi. Tapi penggambarannya itu secara realis,” tutur Budi.

Pemilihan Wali Kota Malang sebagai objek lukisan tentu ada alasannya. Alasannya karena Wali Kota Malang termasuk perwakilan atau pemimpin dari Kota Malang
“Jadi itulahnya dari berbagai tokoh, Pak Wahyu yang saya tertarik. Istilahnya Wali dari Kota Malang,” jelasnya.
Apresiasi Tinggi, Karya Dibeli Langsung oleh Wali Kota
Kebahagiaan pelukis semakin merekah ketika karyanya diapresiasi langsung oleh Wali Kota Malang.
“Iya, senang. Dibeli langsung sama Pak Wali Kota soalnya. Yaa namanya kan diapresiasi. Karena seniman itu paling senang itu kalau ada apresiasi tadi. Apalagi yang dituju ini Pak Wali Kota,” ujarnya.
Tentang range harga, ia juga terbuka soal nilai jual dari karyanya.
“Ini saya kasih harga 25 juta,” ungkap Budi.
Dibalik lukisan ini ternyata memperlihatkan bagaimana seni mampu menjembatani antara pemimpin dan masyarakat.
Dengan karyanya, Pak Budi ini tidak hanya mengabadikan wajah Wali Kota Malang, melainkan juga menyampaikan pesan identitas dan semangat untuk Kota Malang.








