Malanginspirasi.com – Kisah cinta Panji dan Sekartaji kembali hidup di panggung melalui Topeng Panji Kirana: Konser Cinta Nusantara yang digelar di Taman Krida Budaya Malang.
Pertunjukan ini membawa penonton menyelami kembali legenda asmara Nusantara yang telah diwariskan turun-temurun.
Diiringi dengan sentuhan musik, tari, dan topeng yang menyatukan narasi klasik yang diiringi kisah cinta.
Acara yang dimulai pukul 18.00 WIB ini dibuka dengan lantunan musik lembut yang menggambarkan perjalanan cinta Panji seorang ksatria yang terus mencari Sekartaji, belahan jiwanya.
Melalui Topeng Panji, penonton dibuat larut oleh simbol-simbol yang melekat dalam tarian Topeng Panji.
Diantaranya yakni kesederhanaan, ketulusan, dan kelembutan perasaan seorang laki-laki yang mendamba kekasihnya.
Cerita dibalik Tarian

Kisah ini diawali dengan Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang saling mencintai dan memiliki cita-cita membangun keluarga dengan kehidupan yang harmonis.
Akan tetapi, Raja Jenggala, ayah dari Dewi Sekartaji yang memiliki keinginan untuk menikahkan putrinya dengan pria pilihannya.
Lantas Dewi Sekartaji meninggalkan kerajaannya tanpa sepengetahuan ayahnya dan semua orang, lalu ia menyamar sebagai perempuan bernama Panji Laras.
Artikel Terkait:
Pementasan Topeng Panji Kirana Diserbu Mahasiswa! Raup 2.500 Penonton
Kabar ini didengar oleh Raden Panji Asmorobangun, ia langsung berkelana mencari kekasihnya itu dengan menyamar sebagai Panji Inukertapati.
Mereka melewati banyak rintangan, salah paham, bahkan hampir menikah dengan orang lain. Tapi akhirnya, setelah perjalanan panjang, identitas mereka terbongkar dan mereka bersatu kembali.
Sehingga dalam pementasan, gerakan tari yang ditampilkan penuh dengan emosional yang menggambarkan pencarian, kesetiaan, hingga pertemuan kembali setelah lama terpisah.
Para penari dari Sanggar Karimun Center menghadirkan detail gerak yang halus dan penuh dengan pesan, membuat cerita ini terasa hidup di depan mata pengunjung.

Dalam wawancara dengan Kepala Seksi Laboratorium Kesenian UPTLPPK, Abdullah Afif, menjelaskan alasan menghidupkan kembali kisah Panji Sekartaji.
Ia menambahkan bahwa tema cinta selalu menjadi penghubung antar generasi, sehingga relevan untuk dinikmati terutama oleh generasi muda.
“Selain karena Topeng Panji termasuk ciri khasnya Malang Raya yang terkenal, cerita Panji itu tentang percintaan. Istilah lainnya ya asmara yang saat ini banyak dimimati oleh kalangan muda,” ujarnya.
Kolaborasi Arya Galih
Kolaborasi musik Arya Galih memberikan nuansa baru dalam pementasan ini.
Alunan nada menjadi semacam suara hati Panji, sementara gerak tarinya menggambarkan langkah panjang yang ditempuh Sekartaji demi menguatkan cintanya.
Afif juga menegaskan bahwa pementasan seperti ini bukan semata hiburan, tetapi juga cara menjaga kesenian topeng agar tetap hidup.

“Bukan bentuk hiburan saja, ini merupakan bentuk upaya kami dalam menjaga kesenian topeng, harapannya tahun 2026 kegiatan seperti ini bisa lebih banyak, karena antusiasme masyarakat besar sekali,” katanya.
Panji Kirana: Konser Cinta Nusantara menjadi bukti bahwa kisah ini tetap relevan dan mampu menyentuh hati.
Dengan memadukan unsur tradisional dan musik modern, pertunjukan ini tidak hanya menghidupkan kembali kisah Panji dan Sekartaji.
Tetapi juga menegaskan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya meski harus menembus ruang dan waktu.








