Malanginspirasi.com – Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) menggelar Pameran PRISMA 2025 di Malang Creative Center (MCC).
Pameran ini menampilkan kekayaan sejarah, budaya, serta arsip khas Kota Malang.
Mengusung tema “Ada Apa di Malang?,” pameran ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperkenalkan ragam situs dan budaya Malang kepada masyarakat secara lebih dekat dan mudah dipahami.
Dr. Drs. Halid Hasan, M.Strat.HRM, Direktur Akademi Komunitas Negeri Putra Sang Fajar Blitar (AKN).
Sekaligus dosen pengampu mata kuliah kepemimpinan, menyampaikan apresiasinya terhadap karya mahasiswa.

Ia menyebut keterlibatan mahasiswa dalam pameran ini sebagai sesuatu yang “outstanding.”
Dikarenakan mampu memadukan ilmu dari kelas mata kuliah dan pengalaman magang menjadi hasil karya nyata.
“Ini sangat outstanding karena melalui karya ini masyarakat bisa melihat bahwa pembelajaran itu penuh makna. Baik sebagai informasi baru maupun keterampilan baru yang bisa mereka sampaikan kembali kepada publik,” ujarnya pada Kamis (27/11/2025).
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda rutin dengan melibatkan lebih banyak mata kuliah, mengingat mahasiswa juga dipersiapkan menjadi arsiparis dan record manager profesional.
Perluas Wawasan Sejarah
Penanggung jawab pameran, Adinda Nabila Putri, menjelaskan bahwa PRISMA 2025 digelar untuk memperluas wawasan masyarakat terkait sejarah dan budaya yang ada di Malang.
Ia menyebut banyak situs atau budaya lokal yang sebenarnya dekat, tetapi kurang dikenal masyarakat luas.
“Contohnya Candi Badut, Klenteng Eng Ankiong, batik Malangan, situs Watugong, hingga tari Bapang. Banyak yang belum tahu padahal itu bagian dari identitas Malang,” jelasnya.

Adinda menjelaskan bahwa proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara narasumber.
Hingga penelusuran arsip dan media sosial untuk memastikan setiap informasi akurat dan mudah dipahami publik.
“Kalau prosesnya kita harus observasi dulu, dari wawancara, narasumber juga, terus kita cari cari informasi di media sosial, itu sangat membantu kami dalam proses mengumpulkan informasi,” ungkap Adinda.
Dari seluruh lokasi, Candi Badut menjadi situs yang paling berkesan karena merupakan candi Hindu tertua di Jawa Timur.
Candi ini diperkirakan dibangun pada masa Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan pada tahun 760 Masehi.
Dalam pameran, mahasiswa menghadirkan informasi tentang sejarah, arsitektur, serta upaya konservasi candi melalui tampilan visual dan narasi.
Observasi Budaya
Hasil observasi menunjukkan bahwa meskipun candi ini berada di Jawa Timur, gaya arsitekturnya justru meniru ciri Jawa Tengah.
Yang terbagi menjadi tiga bagian: kaki, badan, dan atap simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan.

Sebagai bendahara pameran, Vonia Nur Widyadhari menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan penyelenggaraan perdana PRISMA 2025.
“Kebetulan pameran ini merupakan pertama kali kami gelar,” ungkapnya.
Ia berharap kisah-kisah sejarah yang ditampilkan dapat terus “mengalir” dan dikenalkan oleh generasi muda, bahkan tidak hanya di Malang tetapi juga di luar daerah.
“Sejarahnya, cerita di balik tempat atau situs situs yang ada di kota Malang ini semoga bisa terus mengalir di jejak jejak para anak muda sekarang ini. Bukan hanya di Malang, tapi nanti mungkin bisa sampai ke luar,” tutupnya.








