Menjaga Ruh Seni Topeng Malangan di Tengah Gempuran Zaman serba Teknologi

Malanginspirasi.com – Kerajinan topeng Malangan bukan sekadar karya seni, melainkan warisan budaya yang sarat filosofi. Hal itu ditegaskan oleh Mariono, pengrajin topeng asal Pakisaji, Kabupaten Malang, yang telah puluhan tahun mengabdikan diri pada dunia seni topeng.

Ia menjelaskan, dalam nilai dasar seni, seorang seniman pada mulanya harus memahami bentuk, dimensi, hingga estetika sebuah karya.

Namun seiring waktu, masyarakat awam yang kemudian memberi nilai dan tempat terhadap karya tersebut.

Menurutnya, kerajinan topeng kini terbagi menjadi tiga kategori yakni produksi harian, karya medium, dan karya murni.

Dari ketiganya, karya murni adalah yang paling tinggi nilainya karena tidak terikat target waktu.

“Karya murni itu valuenya berbeda. Bukan seperti topeng harian yang sifatnya industri. Karya murni itu ada filosofi mendalam dibaliknya,” ujarnya di kediamannya, Pakisaji.

Proses pembuatan karya murni bahkan dimulai sejak pemilihan kayu. Mariono mengikuti ajaran para leluhur, termasuk memilih hari yang baik untuk menebang kayu, seperti hari Wage dalam penanggalan Jawa.

Baginya, tradisi itu sebenarnya bagian dari ilmu astronomi yang membantu seniman selaras dengan ritme alam.

Menjaga Ruh Seni Topeng di Tengah Gempuran Zaman serba Teknologi
Mariono bersama karya topeng murninya. (Riznima Azizah Noer)
Energi Seniman

Selain itu, kondisi emosi dan energi pembuat topeng sangat memengaruhi hasilnya, terutama untuk karakter karakter tertentu.

Ia mencontohkan pembuatan topeng Buddha dan Panji yang membutuhkan ketenangan, welas asih, dan energi positif.

“Kalau emosi saya sedang marah, tidak bisa bikin topeng dengan karakter penyayang. Karena energinya tidak keluar,” kata Mariono.

Berbeda dengan karakter antagonis seperti Sabrang atau tokoh garang lain, justru membutuhkan emosi yang lebih kuat. Karena itu, ia sering melakukan meditasi atau kontemplasi, agar emosinya stabil.

Durasi pembuatan karya murni bisa satu hingga tiga bulan, bahkan lebih, tergantung kesiapan energi dan kedalaman karakter yang sedang dikerjakan.

Artikel Terkait:

Topeng Malangan Terancam Punah, Mariono Ceritakan Krisis Regenerasi Pengrajin

Dari sisi teknik, karakter tertentu seperti Dewi Durga menjadi tantangan tersendiri. Ia menggambarkan Durga sebagai sosok ibu yang penuh kasih, namun dalam kondisi dirasuki kemarahan.

“Saya ambil karakter Dewi Durga misalnya, dia orang cantik tapi dalam kondisi marah, femininnya tetap harus terlihat. Itu yang sulit,” jelasnya.

Ornamen pendukung pun harus menggambarkan karakter tersebut, seperti bunga teratai yang melambangkan kecantikan yang tumbuh dari tempat kotor seperti perjalanan seorang ibu.

Bahan Baku

Untuk bahan baku, kayu di Nusantara sebenarnya masih melimpah, terutama di Jawa dan Malang Selatan. Meski begitu, beberapa jenis kayu tertentu kini jarang ditemukan, seperti mentahos dan pangkal.

Kayu sengon dari Malang Selatan masih menjadi pilihan karena seratnya bagus berkat tanah kapur. Setiap kayu, menurut Mariono, memiliki nilainya sendiri, baik dari warna maupun seratnya.

Dalam perjalanannya sebagai pengrajin, Mariono pernah aktif mengikuti pameran, terutama saat masih muda. Dulu, kolektor banyak datang dari Dinoyo atau Surabaya.

Menjaga Ruh Seni Topeng di Tengah Gempuran Zaman serba Teknologi
Salah satu pengrajin, Mahfud, yang membantu Mariono apabila sedang banyak orderan. (Riznima Azizah Noer)

Kini, pesanan justru banyak datang melalui media sosial. Untuk pesanan dalam jumlah besar, ia bekerja bersama sesama pengrajin salah satunya Mahfud.

“Kalau ada pesanan banyak yang 50 sampai 150 biji, kita bagi pengerjaannya,” ujarnya.

Pesanan topeng produksi harian paling banyak datang dari sekolah sekolah, seperti SMKN 1 Kepanjen, SMPN 1 Kota Malang, dan sekolah di Kepanjen lainnya.

Sementara karya murni biasanya dipesan kolektor yang memahami nilai seni.

Tantangan Generasi

Meski begitu, Mariono mengakui bahwa masyarakat Malang sendiri kini banyak yang kurang mengenal ciri khas budaya mereka sendiri, termasuk topeng Malangan.

Justru masyarakat luar daerah lebih mengenalnya berkat media. Tantangan terbesar saat ini adalah edukasi.

Terutama karena generasi muda lebih akrab dengan dunia digital daripada seni manual tradisional.

“Tantangannya tuh sekarang serba digital, gen Z kurang berani ke manualnya, contoh anak saya sekarang lebih suka ke animasi,” tuturnya.

Namun bagi Mariono, selama masih ada yang mencintai seni topeng, tradisi ini tidak akan punah.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang berani turun langsung mempelajari kerajinan topeng bukan hanya melalui layar, tetapi juga melalui tangan dan rasa.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *