Malanginspirasi.com – MGMP Seni Budaya dan Prakarya Kota Malang sukses menggelar Pagelaran Musik dan Tari bertema “Metamorfosa: Transformasi di Luar Batas” yang berlangsung meriah di Multi Purpose Area, Lantai 4 Malang Creative Centre (MCC), Rabu (17/12/2025).
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini dilaksanakan mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB dengan penanggung jawab kegiatan Azizil Alim, S.Pd.
Penampilan Para Siswa
Pagelaran ini merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan pada Selasa (16/12/2025).
Berbeda dengan hari pertama yang menampilkan pertunjukan musik dan tari dari para guru. Pada hari kedua fokus utama diarahkan pada penampilan para siswa dari berbagai SMP di Kota Malang.

Beragam sajian seni ditampilkan secara bergantian, di antaranya Tari Lengjilengbeh oleh SMPN 1 Malang.
Selanjutnya, Tari Remo Asri Kusuma oleh SMP Mardiwiyata, Tari Bang-bang Wetan oleh SMPN 30 Malang, penampilan menyanyi solo dari SMP Mardiwiyata.
Selain itu, terdapat penampilan Tari Ratoeh Jaroe oleh SMP IT Insan Permata, serta Tari Jejer Jaran Dawuk oleh SMPN 8 Malang.
Tidak hanya itu, suasana semakin semarak dengan penampilan Jamming Band Guru yang mendapat sambutan antusias dari penonton.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah Tari Remo Asri Kusuma yang dibawakan oleh siswa SMP Mardiwiyata.

Pelatih tari tersebut, Dirgan Grudowaringin, menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan tarian ciptaannya sendiri.
“Karya itu dulu saya ciptakan waktu saya ikut UKM di kampus saya di UM (Universitas Negeri Malang). Namanya UKM-nya itu Sanggar Tari Karawitan Asri Kusuma,” ujarnya.
Berbeda dari Tari Remo pada umumnya yang menggambarkan sosok prajurit di medan perang. Tari Remo Asri Kusuma menghadirkan makna baru dengan mengangkat figur pejuang pendidikan.
Artikel Terkait:
MGMP Guru Seni Kota Malang Gelar Pagelaran Musik, Tari, dan Rupa Bertema Metamorfosa
Batik Ciprat SMP Negeri 25 Malang Tampil Memukau di Pameran Seni Metamorfosa
“Kalau Remo Asri Kusuma ini sendiri, ini saya mengambilnya prajurit dalam arti pejuang pendidikan begitu. Jadi barisan pejuang pendidikan yang mereka ingin melestarikan budaya sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pesan utama yang ingin disampaikan melalui tarian ini adalah kesiapan insan seni untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Kemajuan teknologi dan pengaruh budaya luar disikapi secara terbuka, namun tidak sampai menggeser nilai-nilai budaya yang telah mengakar.

Meski secara karakter Tari Remo identik dengan sosok prajurit laki-laki, Dirgan menegaskan bahwa tarian ini dapat ditampilkan oleh penari perempuan.
Namun demikian, karakter gerak yang ditampilkan tetap mengusung gaya gagah dan tegas, sesuai dengan ruh keprajuritan yang menjadi ciri khas Tari Remo.
Secara keseluruhan, kegiatan pagelaran musik dan tari ini berlangsung sukses dan penuh semangat.
Antusiasme peserta dan penonton menunjukkan besarnya potensi seni budaya di kalangan pelajar, sekaligus menegaskan pentingnya ruang ekspresi kreatif dalam dunia pendidikan.
Acara ditutup dengan sesi podcast bersama salah satu sponsor kegiatan, Pegadaian Cabang Malang.
Dalam kesempatan tersebut, Relation Officer Pegadaian Malang, Herlin, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan MGMP Seni Budaya dan Prakarya Kota Malang.

Menurutnya, kegiatan ini sangat positif karena memberikan wadah bagi siswa untuk menampilkan karya seni sekaligus memperkuat peran pendidikan karakter melalui seni dan budaya.
“Event seperti ini patut didukung karena memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan karya anak bangsa, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya sejak dini,” ujarnya.
Melalui kegiatan bertajuk Metamorfosa, MGMP Seni Budaya dan Prakarya Kota Malang tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni.
Kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam mendukung transformasi pendidikan yang adaptif, kreatif, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal.








