Malanginspirasi.com — Di tengah pesatnya perkembangan hiburan modern yang kian mendominasi ruang digital dan keseharian generasi muda, Sanggar Tari Sriwedari di Kota Malang tetap hidup dan bertahan sebagai ruang pembelajaran sekaligus pelestarian tari tradisional.
Sanggar ini konsisten memperkenalkan nilai-nilai budaya Nusantara kepada anak-anak dan remaja, meski harus bersaing dengan derasnya arus budaya populer global.
Berlokasi di Jalan Kepundung No. 43, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Sanggar Tari Sriwedari sejak 2018 mengambil peran aktif dalam pelestarian tari tradisional Nusantara melalui pendidikan seni sejak usia dini.
Kecintaan pada Budaya Indonesia
Pemilik Sanggar Tari Sriwedari, Theresia Olivia Carolina Angga Setyorini, mengatakan sanggar ini berdiri berangkat dari kecintaannya terhadap kebudayaan lokal Indonesia.
Ia mengaku sejak kecil telah akrab dengan dunia tari dan budaya daerah.
Menurut perempuan yang akrab disapa Olin ini, keberaniannya mendirikan sanggar merupakan upaya mewujudkan mimpi lama untuk ikut ambil bagian dalam pelestarian budaya Indonesia.
Tidak hanya budaya Jawa, tetapi budaya Nusantara secara luas.
Olin menilai tantangan terbesar pelestarian tari tradisional saat ini adalah derasnya pengaruh budaya asing yang dengan mudah diakses anak-anak melalui media digital.
Namun, tantangan tersebut tidak bisa dihindari dan justru perlu disikapi secara bijak.

“Tantangan pasti selalu ada, apalagi sekarang aksesnya sangat mudah. Tapi kalau akses dari luar ke dalam mudah, berarti sebetulnya akses dari dalam ke luar juga sama mudahnya,” katanya saat ditemui jurnalis Malang Inspirasi, Sabtu (20/12/2025).
Ia menambahkan, sesuatu yang baru memang cenderung lebih menarik perhatian anak-anak.
Karena itu, sanggar tidak melarang ketertarikan terhadap budaya modern. Melainkan berupaya menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai penting yang terkandung dalam seni tradisional.
“Kami juga berusaha menunjukkan ke mereka nilai-nilai penting di dalamnya. Biasanya selain mengajar tari, kami menceritakan kepada anak-anak tentang tarian yang mereka pelajari. Ceritanya apa, kisah di baliknya bagaimana, serta nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Ajarkan Gerakan dan Sampaikan Makna
Dalam proses pembelajaran, Sanggar Tari Sriwedari tidak hanya mengajarkan teknik gerak tari, tetapi juga menyampaikan cerita, makna, dan nilai dari setiap tarian.
Anak-anak diberikan ruang untuk tampil dan diapresiasi agar tumbuh rasa percaya diri sekaligus kebanggaan terhadap budaya daerah.
“Saat mereka tampil dan diapresiasi, anak-anak akan merasa bahwa budaya daerah itu bukan sesuatu yang ketinggalan zaman,” kata Olin.
Di era digital, Sanggar Tari Sriwedari juga aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok sebagai sarana promosi sekaligus edukasi budaya kepada generasi muda.
“Kelestarian budaya itu tidak bisa satu jalur. Harus dua jalur dan berjalan beriringan,” tuturnya.

Selain itu, Olin menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk minat anak terhadap seni dan budaya.
Anak, menurutnya, ibarat kertas putih yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat.
“Peran orang tua sangat besar. Apa yang dikenalkan sejak kecil akan terbawa sampai dewasa,” ujarnya.
Karena itu, strategi Sanggar Tari Sriwedari untuk anak usia TK dan SD lebih banyak menyasar orang tua.
Edukasi dilakukan agar orang tua memahami bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang kuno, melainkan warisan berharga yang membentuk karakter dan identitas anak.
Sementara untuk remaja, pendekatan dilakukan melalui media sosial, kolaborasi lintas genre, serta kemasan yang relevan dengan dunia mereka.
Ke depan, Olin berharap Sanggar Tari Sriwedari dapat terus berkembang dan nilai-nilai yang diajarkan tetap hidup. Nilai tersebut adalah pelestarian budaya Indonesia sejak usia dini.
Ia berharap para muridnya, sejauh apa pun melangkah dalam pendidikan maupun kehidupan, tidak melupakan akar budayanya.








