Malanginspirasi.com – Tradisi unik Natal di Indonesia tak lepas dari kekayaan keberagaman budaya dan adat istiadat yang dimiliki bangsa ini.
Perayaan Natal yang jatuh setiap 25 Desember pun dirayakan dengan cara yang beragam di berbagai daerah.
Keberagaman tersebut mencerminkan kearifan lokal sekaligus nilai toleransi yang kuat.
Dari Sumatera hingga Papua, tradisi Natal tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan melestarikan budaya.
Dilansir dari situs akupintar.id dan akun Youtube Majalah Bobo, berikut sepuluh tradisi Natal di Indonesia yang dilakukan dengan cara unik:
1. Marbinda dan Marhobas – Sumatera Utara

Tradisi masyarakat Batak Toba ini dilakukan dengan menyembelih hewan berkaki empat menjelang Natal (Marbinda).
Selanjutnya hasil sembelihan dimasak secara gotong royong oleh kaum pria (Marhobas).
Daging yang telah dimasak kemudian dibagikan oleh calon kepala desa kepada warga sebagai simbol rasa syukur dan persaudaraan.
2. Wayang Wahyu – Jawa dan Yogyakarta

Wayang Wahyu merupakan pertunjukan seni wayang yang mengangkat kisah-kisah dalam Alkitab.
Sejak tahun 1960-an, tradisi ini menjadi sarana penyampaian firman Tuhan sekaligus wujud inkulturasi budaya antara ajaran Kristiani dan seni tradisional Jawa.
3. Rabo-Rabo – Jakarta Utara

Tradisi Rabo-Rabo (‘Ekor-Mengekor’) dilaksanakan oleh komunitas Kristen keturunan Portugis di Kampung Tugu, Cilincing.
Perayaan dilakukan dengan berkeliling kampung sambil menyanyikan lagu keroncong Natal dan diakhiri dengan tradisi mandi bedak putih sebagai simbol pengampunan dosa.
4. Bunyi Sirine dan Lonceng Gereja – Ambon, Maluku

Perayaan Natal di Ambon ditandai dengan bunyi sirine dan lonceng gereja yang dibunyikan serentak.
Tradisi ini disertai ritual penyucian di Naku Leitimur Selatan, tarian daerah, lagu bersahutan, serta iringan alat musik tifa sebagai simbol pembebasan dari dosa.
5. Ngejot dan Penjor – Bali

Ngejot adalah tradisi saling berbagi makanan antarumat beragama menjelang Natal.
Sedangkan Penjor berupa pemasangan bambu tinggi melengkung sebagai ungkapan syukur atas anugerah Tuhan.
Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai toleransi di Bali.
6. Meriam Bambu – Flores, Nusa Tenggara Timur

Tradisi Meriam Bambu dilakukan dengan menyalakan dan menembakkan bambu sehingga menghasilkan suara dentuman keras.
Tradisi ini menjadi ekspresi sukacita masyarakat Flores dalam menyambut kelahiran Yesus Kristus yang sudah dilakukan sejak tahun 1980-an.
7. Kunci Taon – Manado, Sulawesi Utara

Kunci Taon berarti “mengunci tahun” dan dilaksanakan sejak awal bulan Desember
Rangkaian kegiatannya meliputi ibadah, ziarah ke makam keluarga dengan membawa lampu hias, hingga pawai keliling kota.
Pawai dilakukan pada minggu pertama bulan Januari yang menjadi penutup perayaan Natal.
8. Van Vare – Larantuka, Flores Timur

Tradisi Van Vare diisi dengan pertunjukan musik orkes, paduan suara, serta nyanyian lagu Natal.
Tujuannya untuk menyadarkan masyarakat agar tetap hidup di jalan kebenaran.
Perayaan ini juga dimeriahkan dengan kehadiran Sinterklas yang membagikan hadiah kepada anak-anak.
9. Bakar Batu (Barapen) – Papua

Tradisi Barapen dilakukan dengan memasak bersama menggunakan batu panas yang dimasukkan kedalam lubang kemudian dilapisi daun pisang dan ilalang.
Bahan makanan seperti daging, sayuran, dan umbi-umbian disusun berlapis diatas daun pisang.
Tradisi ini dilaksanakan setelah misa Natal sebagai ungkapan rasa syukur dan sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
10. Lovely December dan Lettoan – Toraja, Sulawesi Selatan

Lovely December merupakan festival budaya dan Natal yang berlangsung sepanjang bulan Desember.
Perayaaanya meliputi wisata kuliner, lomba serta pameran kerajinan, karnaval, upacara-upacara tradisional, pertunjukan seni, dan lain sebagainya.
Puncaknya adalah prosesi Lettoan pada 26 Desember, berupa arak-arakan babi sebagai simbol doa dan harapan, yang sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya Toraja.








