Malanginspirasi.com – Pertunjukan kesenian Bantengan dari grup Manggolo Saputro turut memeriahkan rangkaian acara Brawijaya Tempo Doeloe yang digelar di depan Museum Brawijaya Malang, Kota Malang.
Kegiatan budaya ini berlangsung selama sepekan, mulai 24 hingga 31 Desember 2025, dan menjadi ruang temu antara tradisi dan publik lintas generasi.
Rafael, salah satu pemain kesenian Bantengan menjelaskan bahwa grup Bantengan Manggolo Saputro berdiri pada 2024 dan bermarkas di Balearjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
“Nama grupnya Manggolo Saputro,” ujar Rafael kepada Wartawan Malang Inspirasi pada Kamis, (25/12/2025).

Dalam pementasan tersebut, rangkaian pertunjukan dimulai dari tarian Bantengan, dilanjutkan dengan saweran, lalu ditutup dengan kalapan.
Menurut Rafael, persiapan dilakukan secara intens menjelang pentas.
“Proses latihannya H-1 minggu sudah latihan, anak-anak. Mau pentas itu sudah menyiapkan semuanya,” tuturnya.
Rafael mengungkapkan, keterlibatannya dalam kesenian Bantengan berawal dari ajakan teman-temannya.
“Awalnya diajak teman-teman. Terus pertama ikut, lama-lama ketagihan,” katanya.
Makna Filosofis
Ia menambahkan bahwa meskipun grupnya berdiri pada 2024, dirinya telah mengenal dan mengikuti Bantengan sejak sebelum itu.
Terkait makna filosofis, Rafael menekankan pentingnya Bantengan sebagai upaya pelestarian budaya Jawa.

“Makna filosofinya itu melestarikan budaya Jawa, jangan sampai punah. Kesenian di Pulau Jawa itu banyak, jangan sampai hilang,” jelasnya.
Ia juga menyinggung soal kerja sama antarpemain yang menjadi kunci kelancaran pertunjukan.
“Kerja samanya ya menyiapkan perkakas sebelum main. Kalau ada yang rusak, segera dibenahi,” ujarnya.
Selama ini, ia mengaku tidak menemui tantangan berarti dalam aktivitas kesenian tersebut.
“Alhamdulillah, enggak ada,” katanya singkat.
Pementasan Bantengan Manggolo Saputro pada Brawijaya Tempo Doeloe merupakan undangan langsung dari pihak Museum Brawijaya Malang.

Menurut Rafael, kesenian Bantengan masih relevan di tengah perkembangan zaman.
“Masih relevan dengan zaman sekarang,” ucapnya.
Ke depan, ia berharap semangat pelestarian budaya terus terjaga, khususnya di Jawa Timur.
Baca Juga:
Pementasan Topeng Panji Kirana, Hidupkan Kembali Kisah Cinta Abadi
“Semoga para pelaku kesenian tetap semangat melestarikan budaya Jawa,” pungkas Rafael.
Melalui panggung Brawijaya Tempo Doeloe, Bantengan tidak hanya tampil sebagai hiburan.
Tetapi juga sebagai penanda kesinambungan budaya lokal yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.








