Malanginspirasi.com – Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh pada 21 Februari menjadi salah satu momen penting untuk lebih mengenalkan bahasa daerah kepada siswa.
Tak terkecuali di Sekolah Menengah Atas (SMA) Taman Harapan Malang yang menerapkan praktik nyata untuk pelajaran Bahasa Daerah.
“Para siswa mengenal bahasa ibu dari lingkungan keluarga dan mereka menganggap bahasa ibu sebagai bahasa keseharian,” kata Endro Wiyono, guru Bahasa Daerah SMA Taman Harapan Malang.
Menurutnya, setiap pelajaran Bahasa Daerah para siswa selalu aktif berdiskusi tentang peranan dan perkembangan bahasa daerah masing-masing.
“Mereka sangat antusias apalagi jika sebagai tugas, meski kadang kurang mengarah. Ada juga tantangan dimana beberapa siswa berasal dari berbagai daerah,” lanjutnya.
Endro melanjutkan bahwa terkadang ada pengaruh peranan lingkungan karena tidak semuanya menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah.
“Para siswa mungkin masih kurang percaya diri saat menggunakan bahasa daerahnya, karena takut dianggap kurang modern,” lanjut dia.
Menurutnya, kebijakan pemerintah masih kurang berpihak pada kewajiban penggunaan bahasa daerah pada momen-momen tertentu.
Pemahaman Siswa Akan Pentingnya Bahasa Ibu
Ia katakan juga bahwa sebenarnya para siswa tidak pernah ada yg memandang bahasa daerah tidak berguna.
“Hanya saja mereka tidak bisa maksimal menggunakannya karena beberapa hal seperti tersebut diatas,” katanya.
Karena itulah, Endro sebagai guru Bahasa Daeran harus membuat para siswa memahami bahwa manfaat bahasa ibu tidak kalah dengan bahasa asing yang dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi.
“Kita sampaikan bahasa daerah juga menjadi jurusan di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Bahkan banyak perguruan tinggi luar negeri yang membuka dan mempelajari bahasa daerah kita,” imbuh dia.
Bahkan, lanjutnya saat ini di indonesia sangat kekurangan guru bahasa daerah, dalam hal ini adalah Bahasa Jawa.
Menyadari hal ini, Endro selalu mengajak partisipasi aktif siswanya untuk lebih mengenal bahasa ibu atau bahasa daerah.
“Cara mereka tertarik mempelajarinya adalah dengan mengajak praktik secara nyata,” kata Endro.
Baca Juga:
Ia mencontohkan pentas drama bahasa Jawa yang digelar bersamaan dengan perayaan Imlek gabungan seluruh jenjang pendidikan di Yayasan Taman Harapan.
“Drama tersebut sempat akan dipentaskan secara mandiri. Tetapi akhirnya kita gabungkan dalam perayaan Imlek sehingga para siswa yang masih di usia dini yakni TK dan SD juga dapat menyaksikan kakak-kakak mereka melakukan pentas dalam bahasa Jawa,” kenangnya.
Terkait peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, Endro berpesan bahwa tanpa bahasa ibu kita tidak akan kenal pengalaman dan ilmu pengetahuan.
“Karena bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dikenalkan ke kita sejak kita kecil lewat orang tua atau orang terdekat kita,” pungkasnya.







