Malanginspirasi.com – “Mbois Berkelas”, itulah slogan yang digaungkan dalam Silaturahmi Kebudayaan dengan tokoh dan aktivis budaya di Kota Malang, yang dilangsungkan di Sekolah Budaya Tunggulwulung. Kegiatan yang diinisiasi oleh para pegiat budaya ini, dihadiri oleh Calon Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., yang juga memiliki komitmen dalam memajukan budaya di kota yang sering disebut-sebut sebagai Kota Bunga ini.
Turut hadir Wakil Walikota Malang Periode 2018-2023, Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah Budaya Tunggulwulung. Sedangkan beberapa pegiat budaya yang hadir ialah dari Aktivis Pelestari Punden, Pegiat Bahasa Kawi, dan diramaikan oleh masyarakat setempat.
“Karakter seseorang tidak lepas dari budaya yang menjadi bagian dari kehidupan kita. Untuk itu, saya merasa terhormat dapat hadir untuk dapat berinteraksi dan melakukan sesuatu yang memang menjadi sebuah pedoman kedepannya,” ujar Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.M., selaku Calon Wali Kota Malang.
Adapun tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mendengarkan suara masyarakat demi pelestarian budaya, khususnya dalam ranah Bahasa Kawi dan tradisi setempat yang nantinya dapat ditampung oleh pengambil kebijakan.
Selaras dengan program yang dicanangkan pasangan Wahyu Hidayat dan Ali Muthohirin (WALI), yakni seribu event tiap tahunnya, yang salah satunya event kebudayaan sebagai bentuk industri kreatif. Sehingga ruang diskusi ini tidak hanya sebagai bahan perbincangan saja, tetapi diharapkan dapat benar-benar ter-realisasi dengan baik.
Dibuka dengan Lantunan Kidung Macopat Pupuh Pangkur, acara ini berlangsung begitu hangat. Antusias masyarakat begitu terlihat ketika ruang diskusi telah dimulai.
Berbagai pertanyaan hingga kritik disampaikan oleh pegiat budaya terkait pelestarian punden, pengembangan Bahasa dan Batik Aksara Kawi, hingga peningkatan kesejahteraan Guru Aksara Jawa kuno.

Tak hanya itu, Launching Batik Wetan Kawi juga terangkum dalam gelaran acara tersebut.
“Ini adalah bentuk komitmen kita dengan mendengarkan suara pegiat budaya. Sebagai aktualisasi atau penjabaran dari visi misi saya bagaimana melestarikan budaya menjadi bagian yang tak terlupakan dari sektor-sektor lainnya” sambung Dr. Wahyu.
Sementara itu Anggota Komisi D Kota Malang, Ginanjar Yoni Wardoyo, juga mengutarakan rasa bangganya akan nilai-nilai budaya yang menjadi karakteristik Kota Malang. Baginya, budaya menjadi hal yang krusial dalam mengimplementasikan identitas sebagai Arema yang Berkelas.
“Kita punya ikon budaya, kita punya jati diri. Contohnya batik Kawi Wetan yang menjadi ciri khas Malang. Seperti udeng yang saya kenakan, inilah jati diri Malang. Outputnya semoga nanti Wahyu-Ali bisa berkomitmen merangkul teman-teman budaya untuk memajukan Kota Malang” tutur Ginanjar.
Dengan adanya ruang diskusi kebudayaan ini, diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan pemerintah yang sesuai dengan pendapat, aspirasi, dan kebutuhan masyarakat di Kota Malang pada masa yang akan datang.







