Batik Kantil, Karya Cinta dari Mbunulrejo yang Mendunia

Malanginspirasi.com – Batik Kantil, karya inovatif yang lahir dari tangan kreatif Yusnani Dwiana atau yg akrab di sapa Yoessy ini semakin dikenal di dalam maupun luar negeri. Membawa citra budaya lokal ke panggung dunia.

Sebuah perjalanan panjang dimulai pada tahun 2019, saat Ibu dua anak ini menerima tantangan dari Kelurahan Mbunulrejo, sebuah kampung tua di Malang yang kaya dengan situs sejarah.

Bu Yuke, seorang tokoh lokal, memintanya untuk mengangkat potensi kampung ini melalui desain batik yang unik.

Motif bunga kantil muncul begitu saja dari inspirasi spontanitas wanita berusia 59 tahun ini. Setiap desain yang diciptakannya selalu menghadirkan bunga kantil, simbol dari keindahan alam dan kehidupan yang penuh warna.

Pada 23 November 2019, batik kantil pertama kali diluncurkan, menandai awal perjalanan batik ini menjadi bagian dari identitas lokal yang mendunia.

Batik kantil meliputi dua jenis utama, yaitu batik tulis dan batik cap.

Batik tulis dibuat dengan tangan secara langsung menggunakan canting, menciptakan desain yang lebih detail dan personal.

Sementara itu, batik cap menggunakan teknik cetakan untuk menciptakan pola, yang memungkinkan produksi dalam jumlah lebih besar.

Kedua jenis batik ini memiliki ciri khas masing-masing. Namun tetap mempertahankan nilai estetika yang tinggi.

“Proses penciptaan batik ini memang panjang,” ujar Yoessy.

“Dari gambar yang dicanting, pewarnaan, hingga proses lorot, semuanya memerlukan ketekunan dan waktu. Tidak semua orang memiliki kesabaran untuk melewati tahapan tersebut,” lanjutnya.

Meski demikian, ia merasa bersyukur, karena timnya tetap solid dan setia mengembangkan batik kantil. Hingga kini, mereka terus menciptakan seragam dan berbagai produk batik untuk instansi seperti BRI, BPN, Puskesmas, dan SMP Negeri Tujuh.

Batik Kantil bukan hanya sekadar produk, namun juga menjadi simbol keunikan dan ketekunan.

“Kami memproduksi sendiri kain batiknya, sehingga konsumen bisa memilih langsung,” jelas Yoessy.

Harga Bervariasi

Batik yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp175.000 hingga Rp300.000, tergantung pada jenis dan ukuran pakaian yang diinginkan.

Ia pun mengerjakan berbagai pesanan, baik itu batik untuk pakaian pernikahan maupun aksesoris lainnya, yang semuanya dikerjakan dengan penuh perhatian.

Proses kreatif Yoessy melibatkan seluruh tim, menggabungkan ide-ide dari berbagai individu.

“Awalnya saya melukis, dan saya merasa ingin menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar lukisan, yang berkesinambungan. Eco print yang tak sempurna saya lukis, menghasilkan karya baru yang menjadi batik daun, misalnya,” terangnya, yang menjadikan hobi melukis sebagai inspirasi untuk menciptakan desain-desain baru.

Tak hanya batik, wanita asal Malang ini juga menciptakan aksesoris dari limbah bahan baku, seperti tutup kaleng yang bisa dijadikan aksesoris unik.

Ia bergabung dalam beberapa komunitas sepeti KCB, CKPM, dan APBKM, untuk terus berbagi pengetahuan dan memperluas jaringan.

Batik Kantil semakin melambung ke panggung internasional. Yoessy mengirimkan karyanya ke Prancis, Amerika, dan berbagai negara lainnya.

Salah satu karya Yusnani Dwiana yg dikirim ke Paris, Prancis. (Yusnani Dwiana/Dokpri)

Batik Kantil, yang semula menjadi seragam untuk instansi pemerintah, kini telah merambah pasar global dan menjadi simbol kehidupan yang penuh warna.

Dengan ketekunan, semangat berkarya, dan dukungan komunitas, Yoessy telah berhasil menjadikan Batik Kantil sebagai salah satu karya seni yang mendunia. Mengangkat budaya lokal ke mata dunia, dan memperkenalkan keindahan batik Indonesia kepada generasi muda.

Authors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *