Malanginspirasi.com – Di tengah bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa kembali menghidupkan tradisi Punggahan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Maleman. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam-malam ganjil di bulan Ramadan, seperti malam 21, 23, 25, 27, dan 29.
Punggahan menjadi momen spesial, di mana warga mengantarkan makanan berat kepada tetangga sekitar dan saudara dekat.
Seperti yang dilakukan oleh Puji, salah satu warga Kota Malang, yang antusias menyambut tradisi ini.
Menu khas yang dipilih oleh keluarga Puji kali ini adalah bandeng presto, yang menjadi favorit di kalangan para penerima “berkat” tersebut.
Punggahan memiliki perbedaan dengan “Selametan” pada umumnya. Pada Punggahan, hanya ada menu utama saja di dalamnya, dan tidak disertakan beberapa jajanan pasar.
Saat diwawancarai, Puji menjelaskan Punggahan sudah menjadi tradisi dan perlu dilestarikan.
“Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan bagi kami. Kami ingin berbagi dengan tetangga dan saudara, agar terjalin kebersamaan dan saling mendukung di bulan yang penuh berkah ini,” ucapnya.
Tradisi Punggahan tidak hanya menjadi ajang berbagi makanan, tetapi juga membawa makna spiritual.
“Punggahan ini juga sama dengan Selametan, Mbak. Bisa juga minta doa, agar saudara yang meninggal bisa ditempatkan di sisi terbaik-Nya. Dan kita sekeluarga juga mendapat keberkahan dari Allah,” tambahnya.

Berkah Bagi Semua
Sebelum makanan diantarkan, biasanya makanan tersebut didoakan agar memberikan berkah bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar.
Kegiatan ini umumnya diadakan masyarakat Jawa sebagai tanda awal atau akhir dari bulan Syawal dan Sya’ban.
“Ya biasanya kalo keluarga saya ya, kalo ngga di awal ya di akhir puasa Punggahannya,” terang Puji.
Momen Maleman menjadi simbol kekuatan komunitas dan berbagi kasih sayang di bulan suci ini, di mana segala sesuatu yang baik diharapkan dapat membawa berkah bagi semua.
Dengan adanya tradisi seperti ini, kebersamaan dan kepedulian sosial antarwarga semakin terjalin erat. Hal ini menjadikan bulan Ramadan bukan hanya sebagai waktu beribadah, tetapi juga sebagai waktu untuk berbagi kebahagiaan.









