Malanginspirasi.com – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menyoroti seriusnya persoalan pernikahan dini, pendidikan, dan pemenuhan hak anak di Kota Malang.
Ia menegaskan perlunya sinergi lebih kuat antara DPRD, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, dan komunitas perempuan.
Gunanya untuk menekan angka kasus pernikahan dini yang dinilai sangat memprihatinkan.
“Kolaborasi antara DPRD, OPD dan sekolah dan komunitas perempuan itu saya kira saat ini kolaborasinya sangat penting untuk mengatasi lonjaknya kasus pernikahan dini di Kota Malang,” ujarnya di Gedung DPRD Kota Malang.
Menurut Amithya, kolaborasi antar sektor sebenarnya sudah berjalan, tetapi belum terintegrasi secara maksimal.
“Masalahnya belum tersinergi dengan baik. Ada beberapa tools pemerintah daerah yang masih belum bisa menyelesaikan atau paling tidak punya roadmap. Di tahun keberapa kita mau selesai dengan permasalahan ini?” imbuhnya pada Senin (1/11/2025).
Catatan Merah Kota Malang

Ia menyebut Kota Malang masih tercatat “merah” di tingkat pusat terkait angka pernikahan dini.
Amithya menyayangkan ironi tersebut, mengingat Malang dikenal sebagai kota pendidikan.
“Miris sebetulnya, karena kita Kota Pendidikan. Tapi di sisi itu kita patah, hak-hak anak selesai dengan sebuah pernikahan,” tuturnya.
Menurutnya hal ini juga disebabkan banyaknya perempuan yang masih ragu untuk bersuara karena tumbuh di lingkungan yang patriarkis.
Hal ini membuat mereka lebih memilih diam, mengikuti pola umum yang belum tentu sesuai dengan keinginannya.
Baca Juga:
Polresta Malang Kota Gelar Roadshow Pencegahan Bullying dan Narkoba di SMPN 3 Malang
Marak Pernikahan di Bawah Umur, Begini Penjelasan Dosen UMM
Lebih lanjut, Amithya menyebut perkembangan teknologi tidak selalu membawa dampak positif.
“Pemerintah daerah sudah harus melihat ini red line, benar benar alert. Kenapa di zaman sekarang dengan kecanggihan teknologi malah banyak hak anak yang tidak terpenuhi?” katanya.
Ia menyoroti maraknya kekerasan yang dianggap lumrah serta keputusan orang tua menikahkan anak hanya karena takut anaknya berpacaran.
Padahal, menurutnya, pernikahan adalah keputusan besar yang membutuhkan pertimbangan matang.
Karena itu, ia menekankan perlunya roadmap jelas untuk menangani masalah sosial seperti bullying, putus sekolah, hingga pernikahan dini.
“Kapan Kota Malang bisa zero bullying, zero pernikahan dini, atau zero putus sekolah?” tanyanya.
Sorotan Pendidikan

Amithya juga menyoroti pentingnya pendidikan untuk anak dan ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, masyarakat, terutama orang tua.
“Selain itu menurut saya arti dari kepedulian sebuah pendidikan itu sangat krusial. Karena pendidikan ini salah satu yang membentuk karakter anak ya karena itu akan dibawa sampai akhir,” ungkapnya.
Para orang tua perlu tahu bahwa selain mengembangkan pola pikir, pendidikan untuk anak juga membentuk anak untuk bertahan dengan diri sendiri apabila mereka sudah dewasa.
“Sepanjang life cycle itu yang kita butuhkan adalah pendidikan, bagaimana kita kemudian mempunyai bekal cukup yang tidak hanya melatih cara berpikir. Tapi cara untuk mempertahankan diri ketika nanti
sudah waktunya lepas dari naungan orang tua yang sebelumnya melindungi kita. Jadi saya pikir pendidikan itu sangat penting sekali untuk anak,” tegasnya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa rasa peduli terhadap pendidikan seharusnya dimiliki semua orang, terutama menghadapi masa depan yang semakin penuh rintangan.
“Mestinya itu juga dimiliki oleh setiap orang ya rasa kepedulian terhadap pendidikan,
karena memang betul betul di zaman yang akan datang itu bukan semakin gampang, tapi semakin sulit,” ujarnya.
“Tantangannya tidak hanya ketika kita mungkin berhadap-hadapan dengan sesama tapi lebih ke diri kita sendiri. Jadi kita harus punya banyak bekal untuk bisa mengelola segala sesuatu yang menjadi modal kita kedepannya” tutupnya.








