AS Bekukan Visa 75 Negara, FIFA Tegaskan Komitmen Inklusif untuk Piala Dunia 2026

Malanginspirasi.com – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menanggapi kebijakan pembekuan visa imigran oleh Presiden AS Donald Trump bagi warga 75 negara dengan diplomatis. FIFA menekankan komitmen untuk menjadikan Piala Dunia FIFA 2026 sebagai turnamen “terbesar dan paling inklusif” dalam sejarah.

Kebijakan pembekuan visa ini diumumkan pada 14 Januari dan efektif mulai 21 Januari. Menargetkan negara-negara dengan tingkat penggunaan bantuan publik yang dianggap tinggi oleh pemerintah AS. Termasuk di antaranya adalah beberapa peserta Piala Dunia seperti Brasil, Mesir, dan Iran.

Dalam pernyataan resminya, FIFA tidak secara eksplisit mengkritik keputusan Trump, melainkan fokus pada upaya memfasilitasi akses penggemar internasional.

“Amerika menyambut Piala Dunia 2026. Kami selalu mengatakan bahwa ini akan menjadi Piala Dunia FIFA terbesar dan paling inklusif dalam sejarah. Dan layanan FIFA PASS adalah contoh konkret dari itu,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino.

Pernyataan ini disampaikan saat peluncuran FIFA Priority Appointment Scheduling System (FIFA PASS) di Gedung Putih. FIFA PASS memberikan prioritas penjadwalan wawancara visa bagi pemegang tiket Piala Dunia.

FIFA juga menekankan bahwa kebijakan AS hanya memengaruhi visa imigran (untuk tinggal permanen). Bukan visa non-imigran seperti visa turis (B-1/B-2) yang digunakan oleh penggemar, atlet, pelatih, dan staf pendukung.

“Ini tidak berdampak pada visa non-imigran, seperti yang untuk turis, atlet dan keluarga mereka, serta profesional media yang berniat bepergian untuk Piala Dunia,” kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS, sebagaimana dikutip dari ESPN menanggapi respons terhadap kekhawatiran global.

Selain itu, pemerintah AS telah mengecualikan acara olahraga besar seperti Piala Dunia dari pembatasan. Ini juga meliputi kompetisi yang diselenggarakan oleh FIFA dan liga-liga profesional lainnya.

Tiket Bukan Jaminan

Meski demikian, FIFA mengingatkan penggemar bahwa tiket pertandingan tidak menjamin masuk ke negara tuan rumah.

“Mengingat waktu pemrosesan yang terlibat, FIFA merekomendasikan untuk mengajukan permohonan visa sesegera mungkin,” demikian pernyataan resmi FIFA.

Organisasi ini juga melaporkan permintaan tiket yang memecahkan rekor, menunjukkan antusiasme global tetap tinggi meskipun ada kebingungan awal akibat kebijakan visa.

Reaksi FIFA ini kontras dengan seruan dari luar. Para dari jurnalis dan aktivis yang mendesak pemindahan turnamen ke negara lain seperti Inggris atau boikot terhadap venue AS.

Namun, FIFA mempertahankan netralitasnya sebagai penyelenggara acara sepak bola. FIFA secara tegas menolak rumor boikot atau perubahan lokasi, dan terus bekerja sama dengan pemerintah AS, Kanada, dan Meksiko (tiga negara tuan rumah) untuk memastikan kelancaran turnamen yang akan dimulai pada Juni 2026.

Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan strategi FIFA dalam menavigasi isu politik, di mana organisasi ini lebih memilih diplomasi daripada konfrontasi. Meski demikian tetap muncul suara-suara sumbang atas dugaan standar ganda dalam menangani sanksi terhadap negara lain seperti Rusia di masa lalu.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *