Suku Uighur, Muslim China di Tengah Aturan Ketat

Malanginspirasi.com – Suku Uighur merupakan etnik muslim yang tinggal di China khususnya Kota Xinjiang yang menyimpan banyak sekali sejarah dan warisan budaya Islam.

Suku Uighur telah menghuni wilayah tersebut lebih dari 2.000 tahun.

Secara perawakan hingga budaya, suku Uighur berbeda dengan suku mayoritas Han China. Orang Uighur memiliki bahasa sendiri yang mirip dengan Bahasa Turki.

Etnis Uighur juga menganggap mereka lebih dekat secara budaya dan etnis kepada negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Turmenistan, dan Uzbekistan.

Mereka memiliki sejarah yang panjang yang dapat ditelusuri hingga abad ke-3.

Mereka adalah bagian dari jaringan perdagangan Jalur Sutra yang terkenal, yang menghubungkan China dengan Timur Tengah dan Eropa.

Budaya Uighur

Budaya Uighur sangat bermacam-macam, dari musik, tarian, dan seni.

Musik tradisional Uighur, yang dikenal sebagai “muqam,” adalah bentuk seni yang kompleks dan memikat, sering kali melibatkan instrumen seperti dutar (alat musik petik) dan ghijak (biola).

Tarian Uighur, dengan gerakan yang lincah dan kostum berwarna-warni, adalah bagian integral dari perayaan dan upacara mereka.

Mengenal Suku Uighur, Etnis Muslim di China yang Bertahan Di Tengah Tantangan Peraturan Ketat Pemerintah Terkait Kegiatan Keagamaan
Budaya Suku Uighur dalam pernikahan. (Pinterest/@Flickr)

Dibalik semua kekayaan budaya dan sejarahnya, suku Uighur menghadapi berbagai tantangan salah satunya ialah kebebasan beragama.

Hal ini telah menjadi sorotan dunia terhadap kondisi suku Uighur di Xinjiang, China.

Dilansir dari nuonline, polemik yang menimpa suku Uighur telah ditanggapi oleh Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian.

Pemerintah Tiongkok menyadari keberagaman suku di negeri tirai bambu itu.

Mereka mengaku sepenuhnya memberikan perlindungan kepada setiap warganya seperti dijamin dalam Undang-Undang Dasar negara Tiongkok.

Baca Juga:

Tau Gak Sih? Ada Mawar Bewarna Hitam yang Hanya Mekar di Turki

Selain itu, dilansir dari detik.com, akar masalah dari polemik ini ialah kesenjangan antar etnis dari faktor historis yang lumayan panjang, baik dari aspek ekonomi maupun politik.

Orang Uighur cemburu karena orang Han lebih sejahtera secara ekonomi.

Orang Han cemburu karena orang Uighur tidak terkena One Child Policy dan boleh punya anak lebih dari satu.

Sayangnya, ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang menutupi akar masalahnya dengan bungkus agama.

Hal itu bertujuan supaya isu Xinjiang ini laku terjual dan mendapatkan simpati umat Islam di seluruh dunia.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *