Film ‘Laut Bercerita’, Angkat Tragedi Kelam Penghilangan Paksa Aktivis 1998

Malanginspirasi.com – Film ‘Laut Bercerita’, yang merupakan adaptasi novel bestseller karya Leila S. Chudori, bakal menjadi pengingat kolektif atas salah satu babak kelam sejarah Indonesia. Mengangkat penghilangan paksa aktivis mahasiswa akhir 1990-an pada masa Orde Baru, film garapan sutradara Yosep Anggi Noen ini dijadwalkan tayang di seluruh bioskop nasional pada 2026.

Teaser perdana film tersebut diluncurkan pada 24 Februari 2026 di Plaza Indonesia, Jakarta, dan langsung menuai perhatian.

Diproduksi Pal8 Pictures, ‘Laut Bercerita’ bukan sekadar karya sinematografi semata. Melainkan juga upaya membangkitkan kesadaran publik tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang hingga kini masih dituntut keadilan oleh keluarga korban.

Sinopsis

Cerita berpusat pada Biru Laut (Reza Rahadian), mahasiswa idealis yang aktif dalam kelompok diskusi bawah tanah bernama Winatra. Namun hal ini disikapi keras oleh tangan-tangan kekuasaan pada  saat itu.

Bersama rekan-rekannya, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, Naratama, dan lainnya, ia diculik oleh pihak tak dikenal, disiksa di penjara bawah tanah misterius, kemudian ditembak dan dibuang ke laut. Simbol “laut bercerita” menjadi saksi bisu tragedi tersebut.

Dua tahun berselang, alur bergeser ke adik Biru Laut, Asmara Jati (Yunita Siregar). Ditemani kekasih Biru, dan keluarga lainnya, Asmara bergabung dengan Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana. Mereka berjuang mencari jejak korban di tengah ketakutan dan harapan yang tak pernah padam.

Film ini mengeksplorasi luka mendalam keluarga korban, trauma kolektif, persahabatan antaraktivis, serta kekuatan ingatan.

Biru Laut (Reza Rahadian) bersama kekasihnya Ratih Anjani (Eva Celia) di salah satu adegan dalam film ‘Laut Bercerita’.

Baca Juga:

Film Baru Chicco Jerikho dan Ariel Tatum, ‘Perang Kota’: Kisah Kelam Indonesia Era 1946

Angkat Isu Sosial, Film Horor Psikologis ‘Angkara Murka’ Wakili Indonesia di Festival Film Italia

Sutradara Yosep Anggi Noen sengaja tidak mengadaptasi novel secara harfiah. Ia memangkas beberapa bagian untuk memperkuat tema persahabatan dan kemanusiaan, sehingga cerita lebih padat dan emosional.

Noen, sineas asal Yogyakarta yang dikenal lewat ‘Istirahatlah Kata-Kata’, mengaku casting menjadi tantangan terbesar karena melibatkan banyak karakter dengan lapisan emosi kompleks.

“Mereka harus memikul beban sejarah,” ujarnya.

Adapun untuk naskahnya, ditulis melalui kolaborasi langsung dengan Leila S. Chudori.

Para pemain di promosi film ‘Laut Bercerita’.

Utamakan Otentisitas

Syuting berlangsung selama 37 hari di Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi. Tim produksi melakukan riset visual ketat untuk menghindari kesalahan era (anachronism), mulai dari kostum hingga properti, agar penonton benar-benar “percaya” pada latar 1991–1998.

Produksi dimulai akhir 2025 dengan riset mendalam, termasuk wawancara langsung kepada saksi hidup dan keluarga korban penghilangan paksa.

Dengan dukungan ensemble cast yang kuat, termasuk Reza Rahadian dan Dian Sastrowardoyo, ‘Laut Bercerita’ diharapkan menjadi katalis diskusi sosial, khususnya di kalangan generasi muda yang mungkin kurang mengenal tragedi 1998.

Tanggal rilis pasti belum diumumkan, namun diprediksi pertengahan 2026 untuk memaksimalkan momentum refleksi nasional.

Film ‘Laut Bercerita’ terpilih dalam program Work-in-Progress (WIP) di Hong Kong – Asia Film Financing Forum (HAF) 2026, dan akan berjejaring dengan calon mitra kolaborator di Hong Kong Filmart pada 17–19 Maret 2026.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *