Malanginspirasi.com – Vokalis Derek William Dick, lebih dikenal sebagai Fish, secara resmi meninggalkan band rock progresif Marillion setelah tujuh tahun bersama. Kepergiannya ini menandai akhir dari era paling sukses secara komersial bagi band rock progresif tersebut.
Marillion dibentuk pada 1979 di Aylesbury, Inggris, dan mencapai puncak popularitas dengan Fish sebagai frontman. Album debut ‘Script for a Jester’s Tear’ (1983) langsung masuk Top 10 UK, diikuti ‘Fugazi’ (1984).
Puncak komersial datang dengan ‘Misplaced Childhood’ (1985), album konsep yang menduduki No. 1 UK berkat hit single ‘Kayleigh’ (No. 2) dan ‘Lavender’. Album ini menjadikan Marillion sebagai band neo-prog terbesar era 1980-an, dengan pengaruh kuat dari grup pendahulunya, Genesis.
Sayangnya, perjalanan Fish bersama Marillion berakhir paska diluncurkannya album keempat, ‘Clutching at Straws’ (1987).
Hal ini sangat ironis mengingat album ini selain sukses secara komersial, juga menjadi karya masterpiece. Tema di album tersebut mengangkat tentang depresi, kehancuran diri dan alkoholisme, seolah mencerminkan kondisi internal band saat itu.
Perpisahan ini bukanlah semata karena didepaknya salah seorang personil band. Tetapi hasil akumulasi dari ketegangan soal kreativitas, masalah manajemen, dan kelelahan tur. Puncak dari semua itu adalah konflik interpersonal yang sudah tidak bisa dipebaiki lagi.

Di awal-awal hengkangnya Fish, perseteruan bocor keluar. Para personil Marillion saling menyalahkan di media dari sudut pandang masing-masing.
Namun seiring berjalannya waktu, Fish dan rekan-rekannya bisa melihat dari perspektif berbeda. Lebih bijak. Mereka juga secara terbuka mengakui kontribusi masing-masing anggota band.
Dari Kesuksesan hingga Tekanan
Marillion mencapai puncak pada pertengahan 1980-an dengan album konsep ‘Misplaced Childhood’ (1985), yang menduduki posisi No. 1 di Inggris berkat hit ‘Kayleigh’.
Kesuksesan ini membawa tur panjang dan tekanan dari label EMI untuk segera merilis album lanjutan.
Namun, menurut gitaris Steve Rothery, hal itu membawa konsekuensi buruk. Perpecahan. Ia menyebut Fish sebagai vokalis utama dan penulis lirik, berubah.
“Fish menginginkan ketenaran lebih besar, sementara kami merasa tidak nyaman dengan sorotan itu,” ujarnya mengenang.
Hal itu tak sepenuhnya ditampik Fish. Ia menjelaskan adanya perubahan dinamika di dalam internal band usai meledaknya album ketiga Marillion, ‘Misplaced Childhood’.
“Kami dulu seperti geng, tapi setelah kesuksesan besar, mentalitas itu hilang. Semua mulai memikirkan diri sendiri karena uang,” katanya.
Fish juga menambahkan hilangnya keleluasaan dalam berkreativitas, sebagaimana sebelumnya, menjadi faktor lain yang membuatnya cabut dari Marillion.
“Saya meninggalkan band karena saya tidak lagi diizinkan melakukannya (berkarya) seperti dulu,” terangnya dalam wawancara dengan loudersound.com.
Puncak Konflik di Penggarapan Album ‘Clutching at Straws’
Proses rekaman album keempat ini terasa lebih tidak nyaman lagi.
Rothery mengenang sesi yang penuh ketegangan, termasuk saat ia keluar studio selama 24 jam setelah bertengkar dengan Fish.
Keyboardis Mark Kelly bahkan menyebut rekannya itu memiliki sikap semau gue, “saya akan lakukan apa pun yang saya mau,” ujarnya menggambarkan sikap Fish kala itu.
Isu penyalahgunaan narkoba yang menghinggapi sang vokalis juga ditengarai menjadi faktor lain. Namun Fish membantahnya sebagai alasan utama.
“Ada rumor bahwa saya dipecat karena alkohol dan narkoba. Tapi itu terlalu dibesar-besarkan,” kata Fish dalam media yang sama.

Ultimatum ke Manajemen
Perseteruan dengan manajemen juga menambah panas situasi. Fish ingin memecat manajer John Arnison, yang ia anggap terlalu serakah mengambil keuntungan. Ia memberikan ultimatum kepada band. Ganti manajer atau ia yang keluar.
Menurut Fish, Arnison malah memprovokasi anggota band lainnya, “Jika saya pergi, kalian berikutnya.”
Rothery tak menampiknya.
“Fish memberikan ultimatum soal uang dan kontrol, dan mengancam keluar jika tidak dipenuhi,” kata sang gitaris sekaligus anggota band terlama.
Baca Juga:
Pink Floyd Rilis Ulang ‘Wish You Were Here’ Edisi Spesial 50 Tahun
Alex Lifeson: Posisi Neil Peart di Rush Tak Tergantikan
Sementara Kelly bahkan mengakui secara lugas bahwa karena dirinyalah Fish mengambil keputusan tersebut.
“Saya yang mendorong kepergiannya, bukan memecat. Ia akhirnya mengundurkan diri karena penolakan saya,” kata Kelly.
Situasi tak nyaman di band yang berujung pada kepergian Fish, meski berat, membuat Rothery merasa lega.
“Seperti beban besar terangkat, karena situasinya memang sudah sangat buruk,” ucapnya.
Solo Karier
Pasca hengkang dari band yang membesarkan namanya, Fish merilis album solo yang sukses ‘Vigil in a Wilderness of Mirrors’ (1990). Kemudian musisi asal Skotlandia itu berturut-turut mengeluarkan 10 album studio dalam kurun waktu 30 tahun solo kariernya. Album terakhirnya, ‘Weltschmerz’ dirilis pada tahun 2020.
Adapun Marillion merekrut Steve Hogarth sebagai vokalis utama. Band progresif rock yang didirikan di Aylesbury, Buckinghamshire, Inggris, pada tahun 1979, itu juga produktif merilis album. Total ada 16 album bersama Hogarth, dengan album terakhir ‘An Hour Before It’s Dark’ (2022).

Di era tanpa Fish, Marillion bermusik dengan pendekatan lebih emosional serta inovasi crowdfunding.
Kini, hubungan mereka telah membaik. Fish menyebut kepergian itu sebagai “langkah terbaik” meski pahit. Sementara band mengakui kontribusi Fish dalam membentuk identitas awal mereka.
Bagaimana pun, perpisahan Fish dengan Marillion menjadi salah satu cerita klasik dalam dunia musik, terutama band rock. Banyak band besar yang sukses di awal, namun kemudian anggotanya berpisah karena perbedaan visi dan kreativitas. Serta, terkadang menyangkut pembagian rejeki yang dirasa tidak adil.







