Banjir Bandang Sumatra, Pesan Al-Qur’an saat Melihat Korban Bencana

Malanginspirasi.com – Indonesia kembali diterpa ujian beruntun. Beberapa hari terakhir, berbagai wilayah diguncang banjir bandang Sumatra, longsor, hingga erupsi yang menyebabkan kerusakan besar.

Banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda, sumber nafkah, bahkan orang-orang yang mereka cintai.

Situasi ini mengingatkan bahwa bencana adalah realitas yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam perspektif Islam, musibah bukan hanya ujian bagi mereka yang terpapar langsung, tetapi juga ujian bagi umat yang menyaksikan dan mendengarnya.

Sikap seorang muslim saat melihat saudaranya tertimpa bencana menjadi bagian penting dari ketakwaan dan kepedulian sosial.

Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, hal ini ditegaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Sikap Seorang Muslim Saat Bencana Menimpa

Selanjutnya, islam juga mengajarkan agar seorang muslim tidak hanya menjadi penonton ketika bencana melanda.

Di tengah kondisi Indonesia yang hampir setiap tahun menghadapi musibah besar, pesan ini semakin relevan.

Ketika sebagian saudara kita berduka, kaum muslimin lainnya tidak boleh bersikap pasif atau abai. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan beban para korban.

Pertama, mendoakan para korban.

Karena tidak semua orang mampu turun ke lokasi bencana, tapi semua orang bisa memberikan dukungan melalui doa.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama salaf terbiasa mendoakan saudara muslim dalam doa untuk dirinya sendiri.

Dikarenakan doa seperti ini lebih mudah dikabulkan dan pendoanya pun memperoleh kebaikan yang sama.

Kedua, tidak melaknat atau menyalahkan korban.

Musibah bukan bentuk penghinaan atau bukti kemurkaan Allah. Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan bahwa bencana dapat menimpa siapa saja, termasuk orang-orang saleh.

Allah juga berfirman dalam QS. Asy-Syura: 30:

“Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian, dan Allah telah memaafkan banyak kesalahan.”

Oleh karena itu, tugas kita adalah membantu, bukan menghakimi.

Ketiga, mendorong kolaborasi untuk membantu para korban.

Upaya bersama antara pemerintah melalui BNPB/BPBD, lembaga sosial, dan masyarakat sangat diperlukan.

Donasi melalui lembaga terpercaya seperti LAZISNU, Baznas, dan lembaga filantropi lainnya berperan besar dalam proses pemulihan.

Mulai dari penyediaan hunian, pemulihan kesehatan, hingga pendidikan para penyintas.

Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir menjelaskan bahwa ta’awun atau tolong-menolong mencakup seluruh bentuk kebaikan yang diperintahkan syariat.

Keempat, menyebarkan informasi positif dan menghindari hoaks.

Informasi yang keliru dapat memperparah situasi dan menimbulkan kepanikan.

Sebaliknya, membagikan informasi yang akurat dapat menumbuhkan kepedulian publik dan mempercepat proses penanganan bencana.

Kelima, memberikan edukasi mitigasi bencana.

Pengetahuan tentang evakuasi, pertolongan pertama, serta manajemen risiko lingkungan dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi kondisi darurat.

Edukasi semacam ini juga berperan penting dalam mengurangi jumlah korban pada bencana berikutnya.

Musibah adalah bagian dari ketentuan Allah, namun cara kita meresponsnya merupakan ujian yang tidak boleh diabaikan.

Dengan doa, bantuan nyata, kolaborasi, informasi yang baik, serta edukasi mitigasi, umat Islam dapat menjalankan perintah tolong-menolong dalam kebaikan.

Semoga kita termasuk hamba yang peduli dan selalu siap membantu saudara yang membutuhkan.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *