Malanginspirasi.com – Di balik gemerlap kekuasaan Kesultanan Mamluk, ada kisah ulama besar yang patut menjadi contoh di era sekarang. Ia adalah Syekh Zakaria al-Anshari, ulama yang dikenal teguh memegang prinsip sesuai ajaran Islam. Bahkan ia tidak takut kehilangan jabatan demi menegakkan kebenaran.
Kisah ini bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran tentang keberanian ketika berhadapan dengan penguasa.
Di saat banyak orang memilih diam demi mempertahankan kedudukan, Syekh Zakaria justru mengambil jalan yang lebih berat demi menjaga nilai keadilan.
Keberanian Syekh Zakaria al-Anshari Menegur Sultan
Dilansir melalui Instagram @nuonline_id, saat Sultan Qaitbay naik takhta, ia menunjuk Syekh Zakaria al-Anshari sebagai Hakim Agung tertinggi atau Qâḍî al-Quḍât.
Jabatan ini tentu menjadi posisi paling strategis dan bergengsi dalam struktur hukum Kesultanan Mamluk, sekaligus sangat dekat dengan lingkar kekuasaan istana.
Awalnya, Syekh Zakaria menolak karena menyadari beratnya amanah dan potensi godaan kekuasaan.
Namun, Sultan Qaitbay terus mendesaknya hingga akhirnya ia menerima jabatan tersebut demi kemaslahatan umat yang lebih besar.
Saat itu, Syekh Zakaria menyampaikan sikap yang tegas bahwa hidupnya bukan untuk mengejar jabatan, melainkan untuk menegakkan kebenaran.
Suatu hari, Sultan Qaitbay mengeluarkan kebijakan yang dinilai zalim dan merugikan rakyat. Kebijakan tersebut bertentangan dengan nilai keadilan yang seharusnya dijunjung oleh seorang pemimpin. Dalam situasi seperti ini, Syekh Zakaria memilih untuk tidak diam.
Ia menulis sebuah surat nasihat kepada Sultan dengan bahasa yang tegas tapi tetap sopan dan penuh tanggung jawab.
Dalam surat itu, Syekh Zakaria mengingatkan, “Wahai Sultan, jauhilah kezaliman, karena ia meruntuhkan keadilan.”
Teguran ini menjadi bukti keberaniannya sebagai ulama dalam menjalankan fungsi amar makruf nahi mungkar.
Surat tersebut sampai ke tangan Sultan dan mengguncang istana. Teguran dari seorang Hakim Agung dianggap sebagai pelecehan terhadap wibawa penguasa.
Sultan Qaitbay pun murka atas keberanian Syekh Zakaria yang menegurnya secara langsung.
Tak lama setelah peristiwa itu, keputusan pun diambil. Syekh Zakaria al-Anshari dicopot dari jabatannya sebagai Hakim Agung.
Jabatan yang sebelumnya ia terima dengan berat hati, kini dilepaskan tanpa penyesalan.
Kehilangan jabatan itu sama sekali tidak membuat Syekh Zakaria merasa terpukul. Justru sebaliknya, ia kembali menjalani kehidupan yang paling ia cintai.
Diantaranya mengajar, menulis karya ilmiah, dan memperbanyak ibadah dengan hati yang tenang.
Kisah Syekh Zakaria al-Anshari mengajarkan bahwa jabatan bisa datang dan pergi. Namun keberanian menegakkan kebenaran akan selalu abadi.
Integritas tidak dapat dibeli oleh kekuasaan, dan kebenaran akan selalu berdiri lebih tinggi daripada singgasana mana pun.







