Tahu Gak Sih Dunia Ditaklukkan Bukan dengan Pedang, Tapi dengan Bahasa

Malanginspirasi.com – Selama ini kita mengenal penjajahan lewat senjata, perang, dan kekerasan fisik. Tapi tahu gak sih, ada senjata lain yang jauh lebih halus, lebih licik, dan dampaknya bertahan sangat lama? Jawabannya adalah bahasa.

Pada abad ke 15 hingga ke 16, ketika penjelajah Eropa mulai menjelajahi berbagai wilayah dunia, mereka tidak hanya datang membawa kapal dan meriam. Mereka juga membawa bahasa mereka sendiri.

Hal ini dikarenakan agar mereka bisa berkomunikasi dengan penduduk asli, para penjajah sering menculik orang lokal dan memaksanya menjadi penerjemah.

Orang orang ini dijadikan jembatan komunikasi, tapi juga alat manipulasi.

Kisah Tragis Penerjemah
Tahu Gak Sih Dunia Ditaklukkan Bukan dengan Pedang, tapi dengan Bahasa
Ilustrasi sosok Felipillo dengan Kerajaan Inca. (Google/Alchetron)

Salah satu kisah paling tragis adalah tentang Felipillo, seorang penerjemah yang terlibat dalam penaklukan Kerajaan Inca.

Karena dendam dan tekanan yang dialaminya, Felipillo sengaja salah menerjemahkan pesan penting antara pemimpin Inca dan penjajah Spanyol.

Kesalahan terjemahan itu memicu konflik besar, kesalahpahaman fatal, hingga berujung pada kehancuran sebuah kerajaan besar.

Dari sini kita bisa melihat, satu bahasa yang dikendalikan dengan niat tertentu bisa menghancurkan sebuah peradaban.

Dengan menguasai bahasa, penjajah mampu mengatur informasi apa yang boleh beredar dan apa yang harus disembunyikan.

Mereka bisa memutarbalikkan fakta, menyebarkan berita bohong, serta mengadu domba masyarakat lokal. Bahasa menjadi alat untuk menciptakan ketakutan, kebingungan, dan perpecahan.

Peristiwa Bahasa di Masa Kolonial Indonesia
Tahu Gak Sih Dunia Ditaklukkan Bukan dengan Pedang, tapi dengan Bahasa
Ilustrasi Belanda saat menjajah Indonesia. (Pinterest/adamsabian)

Di Indonesia, hal ini juga terjadi. Pada masa kolonial, bahasa Belanda dijadikan simbol prestise dan kekuasaan. Hanya kaum elit dan bangsawan tertentu yang boleh mempelajarinya.

Sementara itu, bahasa bahasa lokal dianggap rendah, tidak intelek, dan tidak pantas digunakan dalam urusan pemerintahan atau pendidikan.

Tanpa sadar, bahasa dipakai untuk membangun hierarki sosial yakni siapa yang “bernilai” dan siapa yang dianggap tidak penting.

Padahal, bahasa sebenarnya bisa tumbuh secara alami sebagai lingua franca, yakni alat pemersatu antar kelompok.

Namun sejarah menunjukkan bahwa bahasa sering kali dipaksakan melalui kekuasaan politik dan militer.

Ketika bahasa dipaksakan, yang terjadi bukan sekadar perubahan cara berbicara, tapi juga perubahan cara berpikir.

Baca Juga:

Tau Gak Sih Banyak Makanan Eropa Rasanya Hambar? Ini Alasannya

Karena bahasa membentuk cara kita memahami dunia. Bahasa menentukan apa yang kita anggap normal, benar, pantas, dan berharga.

Ketika satu bahasa diangkat sebagai yang paling benar, bahasa lain perlahan dibungkam. Dan saat bahasa dibungkam, suara manusia pun ikut hilang.

Itulah sebabnya bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah instrumen kekuasaan. Alat untuk mengontrol narasi, menentukan sejarah versi siapa yang dipercaya, dan siapa yang dilupakan.

Jadi, lain kali ketika kita berbicara, membaca, atau menyebarkan informasi, ingatlah satu hal, siapa pun yang menguasai bahasa, dialah yang memegang kendali atas narasi dunia.

Dan pertanyaannya sekarang, narasi siapa yang sedang kita percayai hari ini?

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *