Malanginspirasi.com – Siapa sangka, kebiasaan makan suatu bangsa ternyata bisa ditentukan oleh alam tempat mereka hidup. Tau gak sih, mengapa orang Mongolia sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah mengonsumsi daging babi? Ini fakta unik Mongolia.
Padahal, kalau dilihat dari sisi agama, mayoritas penduduk Mongolia bukanlah pemeluk Islam yang mengharamkan daging tersebut.
Jawabannya ternyata bukan soal kepercayaan, melainkan soal alam dan cara bertahan hidup.
Cuaca Ekstrem Mongolia

Mongolia dikenal sebagai salah satu negara dengan iklim paling ekstrem di dunia. Bayangkan saja, saat musim dingin tiba, suhu di sana bisa turun hingga -40 derajat celsius.
Dalam kondisi seperti itu, tidak semua hewan mampu bertahan. Babi, misalnya, termasuk hewan yang tidak memiliki lapisan lemak dan bulu tebal untuk menghadapi cuaca sedingin itu.
Tubuhnya memang terlihat besar, tetapi secara biologis, babi sangat rentan terhadap suhu ekstrem.
Kehidupan Nomaden
Selain faktor cuaca, ada satu hal penting lain yang membentuk pola hidup masyarakat Mongolia, yaitu budaya nomaden.
Selama ribuan tahun, orang Mongolia hidup dengan berpindah pindah tempat mengikuti padang rumput terbaik untuk ternak mereka.
Gaya hidup ini menuntut hewan yang kuat, tahan banting, dan mampu berjalan jauh.

Sapi, kambing, domba, kuda, hingga unta, menjadi pilihan utama karena mereka bisa digembalakan melintasi padang rumput luas tanpa banyak masalah.
Berbeda dengan hewan hewan tersebut, babi justru sulit diajak berpetualang.
Baca Juga:
Menyingkap Fakta Sirdan: Bukan dari Torpedo, Melainkan Isi Perut Domba atau Kambing
Mereka tidak cocok untuk perjalanan jauh, mudah stres, dan membutuhkan perawatan khusus.
Dalam kondisi nomaden yang serba praktis dan keras, memelihara babi justru menjadi beban, bukan keuntungan.
Akibatnya, dari generasi ke generasi, kuliner Mongolia pun berkembang tanpa melibatkan daging babi.

Hidangan khas mereka lebih banyak dari bahan dasar daging domba, sapi, dan kuda, yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi alam dan kebutuhan hidup sehari hari.
Pilihan makanan ini bukan dibuat secara sengaja untuk menghindari babi, melainkan hasil adaptasi panjang terhadap lingkungan.
Jadi, tidak adanya daging babi dalam menu Mongolia bukan soal larangan agama. Ini adalah contoh nyata bagaimana alam, iklim, dan gaya hidup mampu membentuk budaya makan sebuah negara.








