Malanginspirasi.com – Siapa sangka, salah satu ikon wisata paling populer di Kota Malang ternyata berawal dari tugas kuliah mahasiswa. Kampung Warna-Warni Jodipan, tempat wisata yang dikenal Instagramable ini menyimpan cerita inspiratif.
Tentang kreativitas anak muda dan kekuatan ide sederhana yang berdampak besar bagi masyarakat.
Lokasi ikonik ini bermula dari sebuah tugas praktikum kuliah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2016 silam.
Awal Mula dan Ide Tugas Praktikum
Sebelum dikenal seperti sekarang, Kampung Jodipan merupakan kawasan permukiman padat di bantaran Sungai Brantas yang sering dianggap kumuh.
Lingkungannya yang kusam, rumah-rumah tampak seragam, dan kesadaran warga terhdap kebersihan sungai masih rendah.

Kondisi inilah yang kemudian menginspirasi sekelompok mahasiswa tersebut untuk berbuat sesuatu yang berbeda.
Cerita Jodipan sepuluh tahun yang lalu, dimulai ketika delapan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMM tengah mengerjakan tugas praktikum ‘Event Public Relations.’
Sebuah mata kuliah yang mengharuskan mereka membuat program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tim beranggotakan delapan orang ini kemudian dinamakan “Guys Pro Komunikasi UMM” dan memilih fokus pada masalah lingkungan di Kampung Jodipan.
Disadur dari laman resmi UMM, Nabila, selaku ketua kelompok membeberkan rencana sebuah acara yang akan dibuatnya bersama kelompok.
Di mana ia harus menggabungkan beberapa komponen penting. Di antaranya partisipasi masyarakat, kebersihan, keindahan, kreativitas, dan yang terpenting kontinuitas.
Kolaborasi dengan Masyarakat dan Sponsor
Menyadari keterbatasan personel dalam menjalankan proyek bersih-bersih, pengecatan pagar, dan pembuatan mural.
Sekelompok mahasiswa ini berinisiatif mencari sponsor di bawah bimbingan dosen, Jamroji M.comm.
Upaya ini membuahkan hasil manis ketika PT Indana Paint (produsen cat Decofresh) menyetujui untuk mendanai program bertajuk “Decofresh Warnai Jodipan.”
Yang disalurkan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya sebesar Rp 200 juta.
Salah satu anggota, Sulis, menerangkan bahwa ide proyek pengecatan lahir dari inspirasi kawasan ikonik Kickstater, Rio De Janeiro, Brazil serta Kota Cinque Terre, Italia.
Proses Transformasi dan Viralnya Jodipan

Pengecatan dimulai sekitar Mei 2016, selain mahasiswa, proyek ini melibatkan warga setempat, tukang, teknisi, hingga komunitas mural ambil bagian dalam menargetkan transformasi 90 rumah warga.
Dalam waktu singkat kawasan yang dulunya dianggap kumuh berubah drastis menjadi permukiman yang penuh warna dan estetika visual tinggi.
Foto-foto Jodipan kemudian menyebar di media sosial dan menarik perhatian publik luas, baik di tingkat lokal maupun nasional bahkan internasional.
Perubahan ini bukan hanya soal warna, Jodipan segera menjadi destinasi wisata baru yang menarik ribuan pengunjung setiap minggu.
Membuka peluang ekonomi baru bagi warga lewat penjualan makanan, suvenir, hingga jasa foto.
Hal ini menunjukkan efek positif yang timbul dari gagasan mahasiswa UMM di bidang pemberdayaan masyarakat dan kreativitas urban.
Baca Juga:
Desa Pujon Kidul Jadi Destinasi Wisata Alam Favorit Kabupaten Malang
Dampak dan Perkembangan Selanjutnya
Ketika kampung ini menjadi terkenal, Pemerintah Kota Malang pun kemudian ikut berperan dalam pengembangan kawasan tematik lain di sekitar Jodipan.
Termasuk Kampung Tridi (3D Village) dan koneksi berupa jembatan kaca penghubung antara dua kawasan warna-warni tersebut, juga dirancang oleh mahasiswa UMM dari jurusan Teknik.
Dukungan penuh dari masyarakat dan sponsor menjadi kunci utama kelancaran proyek ini. Kampung warna-warni Jodipan menjadi simbol bahwa ide sederhana dari bangku kuliah bisa membawa perubahan besar.
Cerita ini menjadi bukti bahwa kreativitas, kepedulian sosial, dan kolaborasi dapat mengubah ruang yang terlupakan menjadi kebanggaan kota.








