Malanginspirasi.com – Sudah menjadi pemandangan umum, ketika masuk ke studio bioskop kita akan disambut dengan kursi berwarna merah.
Hampir semua bioskop memilih warna merah ini dibanding warna lainnya. Mengapa tidak warna hitam saja yang jelas “gelap”? Apakah ada alasan ilmiah di baliknya? Mari simak penjelasan di bawah.
Ilmu di Balik Warna Merah
Salah satu alasan utama adalah fenomena yang dikenal sebagai Purkinje effect yang dinamai dan dijelaskan oleh ahli anatomi Ceko, Jan Evangelista Purkyně, pada tahun 1819.
Dalam kondisi cahaya rendah, seperti saat lampu bioskop mati, reseptor rods mendominasi penglihatan kita, sementara cone cell menjadi kurang aktif.
Reseptor rods merupakan sel fotoreseptor di retina yang berfungsi untuk manusia melihat dalam kondisi cahaya redup atau gelap.
Sedang cone cell merupakan sel penerima yang bertanggung jawab terhadap penglihatan warna.
Sebagaimana dijelaskan dalam nowiknow.com, warna merah menjadi yang pertama seperti “larut” saat cahaya padam.
Hal ini membuat kursi merah “hilang” atau “lenyap” ke latar gelap dan menjaga fokus penonton ke layar. Dalam hal warna, tidak semua panjang cahaya (wavelength) sama.
Cahaya merah memiliki wavelength lebih panjang daripada cahaya jingga, jingga memiliki wavelength lebih panjang daripada kuning, dan seterusnya hingga biru, nila, dan ungu.
Baca Juga:
Mengungkap Sejarah Matcha yang Sedang Mendunia
Wajib Tahu! Alasan Penting Berpuasa Sebelum Operasi
Seperti dijelaskan sebelumnya, dalam kondisi cahaya redup, reseptor rods tetap bekerja, hanya saja tidak sekeras cone cell.
Cone cell ini lebih mudah mendeteksi spekturm wavelength yang lebih panjang (sensitivitasnya paling rendah), sehingga warna merah adalah warna pertama yang paling cepat “hilang” dari penglihatan mata.
Tradisi, Estetika & Psikologi Merah
Pilihan merah juga memiliki akar historis dan estetika. Teater opera dan panggung klasik Eropa abad ke-19 sering menggunakan kombinasi merah dan emas sebagai simbol kemewahan dan eksklusivitas.
Bioskop modern mengambil inspirasi ini untuk menciptakan suasana “kemewahan ringan” yang memperkuat pengalaman menonton.
Dalam artikelnya, auditoria-service.com menekankan bahwa warna merah menimbulkan sensasi “semangat, gairah, dan intensitas” sekaligus memberikan kontras visual yang kuat di ruangan gelap.
Praktikalitas & Kenyamanan

Selain itu, warna merah memiliki keunggulan praktis yaitu lebih baik menyamarkan noda dan keausan.
Dalam lingkungan bioskop yang ramai dengan popcorn, minuman, dan lalu-lalang penonton, kursi yang tetap tampak rapi juga bagian dari pengalaman kualitas.
Warna merah merupakan pilihan yang sangat baik untuk menyamarkan tumpahan dan noda kecil daripada kursi berwarna terang.
Seatorium memperjelas bahwa merah membantu “menjaga tampilan estetika auditorium dan mengurangi kebutuhan perawatan tajam.”
Kesimpulannya, kursi merah yang kamu temui di bioskop lebih dari sekedar pilihan desain.
Warna merah ini adalah hasil perpaduan fenomena ilmiah, manghidupkan tradisi teater klasik dan prinsip desain praktis.
Warna hitam tidak dipilih karena secara teknis, warna ini menyerap hampir seluruh cahaya yang mengenianya.
Membuat ruangan terkesan dingin dan suram, dan suasana yang terlalu gelap justru akan menyulitkan penonton mencari tempat duduk sebelum film dimulai.
Hitam juga akan sangat mudah menunjukkan debu, serpihan popcorn, atau noda cair lainnya.








