Kampoeng Kedjoe Sabet Juara 1 Inotek Award 2025 Kategori Non-Digital

Malanginspirasi.com – Siapa sangka, inovasi keju lokal karya Kampoeng Kedjoe mampu mencuri perhatian dewan juri dengan meraih Juara 1 kategori non-digital pada ajang Inotek Award 2025.

Produk unggulan mereka, keju artisan berbahan 100 persen susu murni, dinilai sebagai inovasi kreatif yang berhasil mengangkat potensi sumber daya lokal.

Produk mereka sekaligus menjawab kebutuhan pasar dengan produk bernilai jual tinggi.

Inovasi ini tidak hanya bernilai jual tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dengan pemanfaatan limbah whey menjadi produk turunan.

Inovasi Ide

Salah satu penggagas Kampoeng Kedjoe, Zakijah Irfin, mengungkapkan ide pembuatan keju ini berawal dari melimpahnya produksi susu di Kota Malang.

Potensi itu mendorong mereka untuk mengembangkan produk olahan susu dengan nilai tambah tinggi dan daya simpan lebih lama.

“Tren keju mozzarella yang sedang berkembang mendorong kami mengolah susu melimpah di Malang. Lalu menjadi produk keju artisan yang digemari masyarakat,” ujar Zakijah Irfin usai penyerahan penghargaan.

Tak hanya menghasilkan produk utama berupa keju, inovasi Kampoeng Kedjoe juga mengedepankan konsep zero waste atau tanpa limbah.

Kampoeng Kedjoe Sabet Juara 1 Inotek Award 2025 Kategori Non-Digital Berkat Inovasi Keju Artisan Ramah Lingkungan
Zakiyah Irfin (dua dari kiri) dan Dwina Moentamaria (tengah) berfoto bersama tim setelah menerima juara 1 Inotek Award 2025 kategori non-digital. (Anggraeni Juwita)

Hal itu diwujudkan dengan memanfaatkan whey, yakni cairan sisa hasil pembuatan keju, menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi.

“Dalam industri keju, dari 10 liter susu hanya dihasilkan sekitar 1 kilogram keju. Sisa cairannya kami olah lagi menjadi produk lain seperti truffle dan susu kental manis, meski belum diproduksi secara massal,” jelas Dwina Moentamaria, rekan satu tim Kampoeng Kedjoe.

Langkah Peduli Lingkungan

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Limbah organik dari industri susu, meskipun alami, tetap bisa berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.

“Meskipun organik, kalau limbahnya terlalu banyak tetap tidak baik bagi lingkungan. Karena itu, kami berupaya agar semua hasil produksi bisa dimanfaatkan tanpa sisa,” tambah Irfin.

Keberhasilan meraih penghargaan di ajang bergengsi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keduanya yang juga merupakan dosen aktif di Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang (Polinema).

Artikel Terkait:

Inotek Award 2025 Dorong Budaya Inovasi dan Kreativitas di Kota Malang

Mereka berharap inovasi ini dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi peternak dan kelompok ibu rumah tangga di sekitar Malang.

Kami ingin seperti gurita, yang merangkul banyak pihak, mulai dari peternak susu hingga para ibu rumah tangga sekitar, untuk ikut terlibat dalam proses produksi,” ungkap Dwina.

Lebih lanjut, kedua perempuan yang juga pengajar di Polinema itu menyebut timnya berkomitmen untuk terus memberdayakan perempuan dalam rantai produksi keju artisan mereka.

“Ke depan, kami ingin tetap melibatkan para perempuan dalam proses pembuatan keju artisan ini.” ujarnya.

“Selain membuka peluang ekonomi, kami juga ingin membangun kesadaran bahwa produk lokal Malang mampu bersaing dengan produk global,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *