Malanginspirasi.com – Setiap bulan Desember, langit malam di berbagai belahan dunia kembali diramaikan oleh salah satu hujan meteor paling memesona, yaitu Geminids.
Fenomena ini selalu mencapai puncaknya pada 13-14 Desember, ketika ratusan meteor melesat cepat di langit malam.
Menurut NASA dan European Space Agency (ESA), Geminids termasuk hujan meteor paling terang dan stabil, dengan potensi lebih dari 120 meteor per jam pada kondisi langit gelap total.
Asal-usul Unik Geminids
Kebanyakan hujan meteor berasal dari debu komet, tetapi Geminids adalah pengecualian langka.
Hujan meteor ini berasal dari asteroid 3200 Phaethon, sebuah objek batuan yang perilakunya menyerupai komet.
NASA menyebut asteroid ini sebagai “rock comet”, karena meski bentuknya batuan kering, ia tetap mengeluarkan debu ketika mendekati Matahari. Sebuah perilaku yang biasanya hanya dimiliki oleh komet.
Debu inilah yang kemudian memasuki atmosfer bumi dan terbakar, menghasilkan garis-garis cahaya yang kita kenal sebagai meteor.

Terang dan Berwarna-Warni
Menurut ESA, meteor Geminids sering terlihat lebih terang daripada meteor dari hujan lainnya, dan terkadang menampakkan warna seperti kuning, hijau, biru, dan merah.
Warna ini muncul karena komposisi mineral yang terbakar ketika memasuki atmosfer Bumi.
Misalnya, magnesium menghasilkan cahaya biru, natrium memunculkan warna kuning, nitrogen & oksigen menghasilkan warna merah, sementara kalsium dapat menimbulkan warna kebiruan.
Awal Mula Dinamakan Geminids
Nama “Geminids” berasal dari rasi bintang Gemini, walaupun begitu fenomena ini tidak hanya muncul di sekitar rasi bintang tersebut.
Nama itu merujuk pada titik asal meteor (radiant) yang tampak berada di rasi Gemini. Namun, garis lintasan meteor tetap tersebar di berbagai sudut langit.
EarthSky menegaskan bahwa inilah yang membuat Geminids begitu mudah diamati, bahkan oleh pemula.
Tidak diperlukan teleskop, cukup mencari lokasi minim polusi cahaya, menunggu mata beradaptasi, dan meteor akan tampak melintas di cakrawala.
Hanya Ada pada Bulan Desember

3200 Phaethon mengorbit matahari setiap 1,4 tahun, membentuk jalur panjang berisi debu dan partikel kecil. Jalur debu ini bersifat stabil dan tidak cepat menghilang.
Karena jalurnya tetap dan posisinya konsisten, bumi selalu melewati bagian yang sama dari aliran debu tersebut setiap tahun di tanggal yang hampir sama.
Itulah sebabnya hujan meteor Geminids muncul berulang secara tahunan.
Data NASA menunjukkan bahwa intensitas Geminids juga meningkat selama beberapa dekade terakhir.
Pada awal abad ke-20, hujan meteor ini hanya menghasilkan sekitar 10-20 meteor per jam yang terlihat.
Baca Juga:
Moonbow, Pelangi Langka di Malam Hari
Kini, jumlahnya bisa mencapai 100-150 meteor per jam pada puncak aktivitas, menjadikannya salah satu hujan meteor paling produktif yang pernah diamati manusia.
Fenomena ini juga berlangsung cukup panjang, yaitu dari 4-17 Desember, dengan puncak pada tanggal 13-14.
Artinya, ketika bumi berada pada titik orbit tertentu yang memotong debu Phaethon, barulah meteor Geminids tampak.
Pada bulan lain selain Desember, bumi tidak berada di jalur itu, sehingga tidak ada fenomena Geminids.

Terlihat di Hampir Seluruh Dunia
Walaupun Geminids lebih optimal terlihat di belahan bumi utara, pengamat di wilayah tropis seperti Indonesia tetap dapat melihatnya dengan jelas.
NASA menyebutkan bahwa meteor Geminids melintas cukup tinggi di langit sehingga dapat disaksikan di banyak wilayah tropis.
Untuk jangka panjang, para ilmuwan memprediksi Geminids akan terus terjadi selama ratusan hingga ribuan tahun.
Orbit Phaethon cukup stabil, dan aliran debunya masih sangat padat. Bahkan data NASA menunjukkan jumlah meteor Geminids justru meningkat selama satu abad terakhir.
Namun, seiring waktu (ribuan tahun ke depan), aliran debu itu perlahan bisa menyebar atau menipis, menyebabkan intensitasnya berkurang.








