6. Ekonomi Yaman Runtuh
Ekonomi Yaman telah runtuh sebagai akibat dari konflik berkepanjangan. Inflasi yang tinggi membuat harga barang-barang pokok seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan melonjak tajam. Sementara penduduk yang kehilangan pekerjaan tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rumah sakit, sekolah, dan sistem air yang rusak juga menambah beban masyarakat. Kebutuhan akan kebutuhan dasar terus meningkat, sementara biaya hidup menjadi semakin tak terjangkau.
7. Gencatan Senjata Masih Berlangsung
Pada tahun 2022, sebuah gencatan senjata selama enam bulan yang diinisiasi oleh PBB memberikan harapan bagi perdamaian di Yaman.
Meskipun gencatan senjata ini tidak diperpanjang secara resmi, kondisi serupa gencatan senjata tetap bertahan. Ini berhasil menurunkan tingkat kekerasan dan menciptakan ruang untuk negosiasi politik.
Namun, masalah utama seperti pengungsian dan kemerosotan ekonomi belum sepenuhnya teratasi.
8. Perubahan Iklim Memperburuk Krisis
Selain konflik, Yaman juga harus menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim. Bencana alam seperti banjir dan badai telah memaksa 600.000 orang mengungsi, memperparah situasi yang sudah buruk.
Perubahan pola hujan mengganggu pertanian dan memperburuk akses terhadap air bersih di negara yang sangat kekurangan air ini.
9. Masyarakat Sipil Masih Bertahan
Di tengah krisis yang melanda, masyarakat sipil di Yaman tetap menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Organisasi masyarakat setempat, termasuk organisasi wanita, memainkan peran penting dalam mediasi konflik dan pemulihan layanan dasar bagi komunitas yang terdampak.
Kesimpulan
Krisis di Yaman telah membawa dampak besar bagi jutaan penduduknya, dari ancaman kelaparan hingga pengungsian yang terus berlangsung.
Dengan situasi yang semakin diperburuk oleh pengurangan bantuan pendanaan, kehancuran ekonomi, dan perubahan iklim.







