Bolehkah Mengkritik Pemerintah Menurut Islam?

Malanginspirasi.com – Kritik masyarakat terhadap pemerintahan yang disampaikan secara terbuka berperan dalam mengawasi kebijakan, mendorong perbaikan, serta menciptakan kehidupan sosial dan politik yang lebih sehat.

Namun, bagaimana Islam memandang tindakan mengkritik pemerintah?

Pandangan Islam tentang Kritik terhadap Pemerintah

Dalam Islam, ketaatan kepada pemimpin yang sah merupakan kewajiban selama tidak bertentangan dengan perintah Allah.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa taat kepada pemimpin adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 59:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ

Ayat ini menjelaskan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri atau pemegang kekuasaan.

Namun, ketaatan ini bersyarat, selama pemimpin tidak mengarah pada kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat.

Imam ath-Thabari dalam Jāmi’ al-Bayān menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah sejatinya adalah bentuk ketaatan kepada Allah karena ajaran Nabi bersumber dari wahyu.

Hadis Adab Mengkritik

Abu Ja’far ath-Thabari menyatakan:

يعني بذلك جل ثناؤه: يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله ربكم فيما أمركم به وفيما نهاكم عنه، وأطيعوا رسوله محمدًا صلى الله عليه وسلم، فإن في طاعتكم إياه لربكم طاعة، وذلك أنكم تطيعونه لأمر الله إياكم بطاعته،

Lebih lanjut, makna ulil amri dalam ayat tersebut merujuk kepada para pemimpin atau pemerintah.

Hal ini ditegaskan oleh riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwa ulil amri adalah para pemimpin:

حدثني أبو السائب سلم بن جنادة قال، حدثنا أبو معاوية، عن الأعمش، عن أبي صالح، عن أبي هريرة في قوله: “أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم”، قال: هم الأمراء.

Meskipun ketaatan kepada pemimpin diwajibkan, Islam tidak menutup ruang kritik terhadap pemerintah. Dalam hukum Islam, mengkritik kepala negara atau pemerintahan tidak dilarang.

Namun, kritik tersebut harus disampaikan dengan tujuan memperbaiki keadaan, bukan untuk menimbulkan kerusakan, kekacauan, atau perpecahan di tengah masyarakat.

Sejarah Islam mencatat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifah pertama umat Islam, secara terbuka meminta rakyat untuk mengoreksinya jika ia melakukan kesalahan.

Sikap ini menunjukkan bahwa kritik merupakan bagian dari kontrol sosial yang sehat dan mencerminkan kerendahan hati seorang pemimpin dalam menjalankan amanah.

Islam juga menekankan adab dalam menyampaikan kritik. Kritik hendaknya disampaikan dengan santun, penuh hikmah, dan tidak menggunakan kata-kata kasar atau merendahkan.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

Pentingnya Menyampaikan Kritik Dengan Tutur Baik

Ayat ini menegaskan pentingnya berdialog dengan cara yang baik, termasuk saat menyampaikan kritik.

Al-Wahidi dalam Tafsir al-Basith menjelaskan ayat tersebut sebagai perintah untuk menggunakan tutur kata yang lembut dan argumen yang baik, bukan dengan kekerasan atau celaan.

Selain itu, kritik tidak boleh mengandung fitnah atau informasi palsu. Islam sangat melarang pencemaran nama baik dan kebohongan.

Kritik harus didasarkan pada fakta yang benar serta disampaikan dengan niat menjaga kemaslahatan umat dan stabilitas masyarakat.

Islam juga melarang tindakan menghina pemimpin. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Hadis ini menjadi peringatan agar kritik tidak berubah menjadi penghinaan yang merusak kehormatan dan wibawa kepemimpinan.

Kesimpulannya, hukum mengkritik pemerintah diperbolehkan dalam Islam selama dilakukan dengan adab yang benar.

Kritik harus disampaikan secara santun, jujur, berlandaskan fakta, serta bertujuan untuk perbaikan dan kemaslahatan bersama.

Islam mengajarkan keseimbangan antara ketaatan kepada pemimpin dan keberanian menyampaikan kebenaran demi menjaga keadilan dan keharmonisan sosial.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *