Malanginspirasi.com – Kota Pocheon, dengan populasi 140.000 jiwa dan merupakan wilayah terluas ketiga di Provinsi Gyeonggi, hanya memiliki satu rumah sakit yang melayani persalinan.
Rumah Sakit tersebut adalah Rumah Sakit Pocheon di Pusat Medis Gyeonggi, sebuah rumah sakit publik.
Kepala Bagian Kebidanan dan Kandungan, Ko Young-chae, yang telah bekerja di sana selama hampir 40 tahun, adalah satu-satunya dokter persalinan yang aktif di Pocheon saat ini.
Jika Rumah Sakit Pocheon menghentikan layanan persalinan, ibu hamil di Pocheon dan daerah terpencil di sekitarnya harus mencari rumah sakit lain.
Namun, ruang bersalin Rumah Sakit Pocheon juga terancam tutup kapan saja karena kerugian kronis dan kekurangan tenaga.
Direktur Rumah Sakit Pocheon dari Pusat Medis Gyeonggi, Baek Nam-soon, mengatakan,
“Kepala Bagian Obgyn yang saat ini bekerja berusia 70-an, dan dokter obgyn spesialis yang membantu saat beliau libur berusia 60-an. Jika salah satu dari mereka tidak ada, layanan di sini akan segera berakhir,” ujarnya.
“Paling lama dalam 2 hingga 3 tahun, sistem persalinan 24 jam di rumah sakit kami akan goyah, dan mungkin akan kolaps,” tambahnya.
Obgyn adalah salah satu bidang spesialisasi yang paling dihindari, dan jumlah dokter yang melayani persalinan terus berkurang.
Daerah-daerah pedesaan lebih merasakan dampaknya.

Risiko Operasi Persalinan
”Saya adalah dokter anestesi, dan operasi yang paling ditakuti oleh dokter anestesi bukanlah trauma atau kasus sangat darurat, melainkan operasi persalinan. Ada dua nyawa yang dipertaruhkan, yaitu wanita muda dan bayi baru lahir, sehingga risikonya sangat besar,” ujar Direktur Baek Nam-soon.
“Jika dokter anestesi saja begini, apalagi dokter obgyn. Kami mencoba merekrut, tetapi tidak ada dokter yang mau.”
”Pelayanan persalinan adalah sistem yang pasti akan mengalami masalah jika tidak ada siaga 24 jam, 365 hari setahun. Itu tidak mungkin dilakukan dengan hanya dua dokter.”
“Tetapi selama ini bisa dipertahankan karena ada seorang dokter yang benar-benar mengabdikan diri seperti panggilan jiwa dan hampir sepenuhnya bertanggung jawab selama 365 hari,” lanjutnya.
Kerugian Rumah Sakit
Pelayanan persalinan selalu merugi karena biaya pemeliharaan infrastruktur tinggi. Tetapi tarif layanan rendah dan jumlah pasien sedikit.
Inilah alasan mengapa rumah sakit daerah memilih untuk tidak melayani persalinan.
Direktur Baek mengatakan, “Meskipun menerima dana bantuan pemerintah, kami masih merugi 6 hingga 7 miliar Won per tahun.”
Seraya menambahkan, “Mempertahankan sistem persalinan 24 jam membutuhkan tenaga kerja dan biaya yang luar biasa. Sangat sedikit pusat medis yang mampu menanggungnya,” tutupnya.








